Dear Millenials

Kalian pernah nggak sehari saja nggak  buka media sosial? Pegang hape, tetapi bete dan nggak pengen buka media sosial, nggak pengen posting foto di Instagram, nggak pengen komentar di Twitter. Wah itu pasti bukan hari yang normal buat kalian. Bisa jadi kalian habis mendapat nilai buruk, atau habis ditegur guru, dosen dan orangtua, pekerjaan kantor kalian berantakan, banyak tugas. Atau bisa jadi baterai ponsel lagi habis.

Dalam situasi yang normal, ponsel dan media sosial sepertinya sudah menjadi kebutuhan primer kalian. Generasi model kalian bisa mati gaya jika seharian tidak membuka media sosial, meski sekedar untuk mengirimkan like, love dan kirim emoji di kolom komentar wall Facebook. Atau sekedar membaca resep masakan yang di copy paste tetangga sebelah, ditengah aktivitas harian kalian.

Generasi kalian, seperti dikemukakan Dirjen Aplikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informasi, Semuel A. Pangerapan rata-rata membuka media sosial 3 jam 15 menit per hari. Itu data yang dilansir akhir 2017. Tahun ini pasti jauh lebih meningkat sebab spot-spot wifie semakin banyak bertebaran yang memungkinkan kalian buka media sosial tanpa perlu modal paket data atau pulsa.

Obyek apapun yang terpampang dihadapan, menggelitik keinginan kalian untuk memfotonya, lalu memposting melalui media sosial. Salah satu kebiasaan kalian yang sekarang makin populer adalah memposting makanan sebelum disantap. Mau makanan yang mewah maupun kelas kaki lima. Koleksi caption lucu yang seabreg membuat semua jenis postingan makanan kalian menjadi indah dan menarik.

Ya, wisata kuliner adalah obyek foto yang cukup banyak bertebaran di media sosial. Selain tempat wisata, penginapan, taman, binatang peliharaan, aktivitas pertemanan dan pesta. Semua mengindikasikan bahwa dimanapun kalian berada, wajib dikomunikasikan melalui media sosial.

Apalagi sekarang, teknologi ponsel semakin canggih saja. Ponsel-ponsel jaman sekarang sudah dilengkapi dengan fitur untuk menghasilkan foto jadi lebih indah dari aslinya. Alhasil meski saat itu wajah kalian rada berminyak, rada mengandung debu, tetap saja dalam rekaman foto di ponsel kalian jadi cantik, ganteng dan ciamik. Aha.. 

Millenials 

Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, mengunggah foto di media sosial bagi kalian menjadi hal yang sangat ringan dilakukan setiap saat. Momen apapun itu. Tidak terpikir apa dampaknya bagi orang yang melihatnya
 


Tempat wisata yang diviralkan di media sosial

Padahal, postingan foto di media sosial menurut penelitian yang dilakukan terhadap 380 mahasiswa di Universitas Michigan dan Universitas Wisconsin-Milwaukee baru-baru ini menunjukkan bahwa responden mengaku iri hati saat melihat foto-foto indah dan tulisan yang tersebar di Facebook dan Twitter, termasuk unggahan tentang barang-barang mahal, bepergian untuk liburan dan bertunangan.

Bersyukurnya, dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan iri hati dengan kategori jinak. Iri hati tipe ini sangat positif karena akan menyebabkan orang yang melihatnya, bekerja lebih keras untuk mencapai prestasi yang sama atau melakukan hal serupa.

Jadi, tak ada jeleknya jika kalian sering-sering memposting momen-momen indah, momen-momen bahagia termasuk perjalanan wisata agar teman kalian memiliki inspirasi untuk melakukan atau untuk meraih hal yang sama.

Faktanya saat ini, foto-foto di media sosial cerita-cerita di blog-blog travel, sering menjadi referensi generasi model kalian untuk mengambil perjalanan wisata secara mendadak, tanpa perencanaan. Ya, perilaku yang demikian akan terus terduplikasi di dunia maya dan mempengaruhi milenial lainnya.

Millenials

Rupanya fenomena hobi mengunggah foto apapun dalam aktivitas keseharian kalian, mencetuskan ide brilian bagi Pak Arief Yahya, Menteri Pariwisata kita. Bapak yang berkantor di Jalan Merdeka Barat Jakarta tersebut bakal mengakomodir hobi kalian yang suka foto, lalu memviralkan melalui dunia maya, bikin hits, dan instagramable dengan mencanangkan apa yang disebut destinasi digital. Program ini diluncurkan Pak Arief Yahya sendiri pada Maret 2017 di Nusa Dua Bali bersamaan dengan Rakornas Kementerian Pariwisata.

Wah, bakal makin banyak lagi nih sudut-sudut cantik yang bisa dijadikan sasaran buat memperkuat eksistensi kalian di dunia maya. Makin banyak pula pilihan momen-momen indah yang perlu direkam ya Guys.

Tetapi, kalian tahu nggak apa itu destinasi digital. Ini adalah konsep pengembangan destinasi wisata yang memanfaatkan dunia digital. Destinasi digital didefisinikan sebagai destinasi yang heboh di dunia maya, viral di media sosial dan nge-hits di Instagram. Intinya, destinasi yang pantas untuk dipamerkan, untuk dipromosikan ke orang-orang melalui rekaman foto, tidak sekedar cerita dari mulut ke mulut atau tulisan. Tanpa foto adalah hoaks, itu istilah yang sering kalian gunakan.

Pak Arief Yahya bilang, destinasi wisata yang memiliki spot instagramable saat ini semakin diincar baik oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal. Makanya Indonesia perlu menambah koleksi destinasi digital.

“Mereka menyukai tempat yang indah untuk difoto, layak di medsoskan, sedang differentiating-nya harus instagramable dan brandingnya kids jaman now,” kata Menpar.

Contoh destinasi digital adalah Pasar Tahura di Lampung yang berhasil menghidupkan kembali Taman Hutan Raya atau Tahura Wan Abdurahman atau youth camp. 


Ini adalah destinasi digital De'Mata di Yogyakarta (koleksi pribadi)

Destinasi digital lainnya adalah Pasar Kaki Langit di Yogyakarta, Pasar Karetan di Kendal, dan Pasar Siti Nurbaya di Padang. Ada juga Pasar Baba Boen Tjit di Palembang, Pasar Pancingan di Lombok dan Pasar Manrove di Batam.

 Millenials

Kata Pak Arief Yahya, tahun ini, akan ada 100 destinasi digital yang bakal dibangun Kemenpar lho. Lokasinya menyebar rata di 34 propinsi. Mulai Sabang hingga Merauke. Yakin bakal terbangun 100 persen? Optimislah. Karena untuk membangun satu destinasi digital cuma butuh biaya sekitaran Rp 200 juta. Kok bisa murah banget begitu ya?

Bisa dong. Kuncinya kreativitas. Ide orisinil dan menarik. Pasti gampang. Karena sebagai manusia bergizi, otak kalian memang gudangnya ide unik, gudangnya kreativitas, berbeda dengan generasi sebelumnya. Makanya saat membangun destinasi digital, Pak Arief bersama timnya menggandeng kalian yang tergabung dalam Generasi Pesona Indonesia alias GenPi yang tersebar di daerah-daerah. Wow, kalian memang luar biasa.

Eits, penasaran nggak mengapa Pak Arief Yahya bikin destinasi digital? Apakah tempat-tempat wisata Indonesia yang bejibun banyaknya dan punya keindahan kayak surga dunia itu sudah punah? Jangan salah, semuanya masih utuh, semua masih ada.

Candi Borobudur, Candi Prambanan, Danau Toba, Raja Ampat, Bali, Jalan Malioboro, Kawasan Gunung Bromo, Kawasan Gunung Merapi, Tangkuban Perahu dan lainnya. Malah bertambah banyak jumlahnya seiring penemuan destinasi wisata yang baru. Kalian pasti bakal bingung kalau suruh memilih bakal kemana berwisata akhir tahun. Saking banyaknya. Mana sarana transportasi sekarang makin mudah pula.

Nah, destinasi digital dibangun untuk melengkapi destinasi wisata yang sudah ada, menyempurnakan yang sudah populer. Sebab jika destinasi-destinasi domestik tidak segera menyesuaikan diri dengan selera milenial, maka anggaran konsumsi pariwisata kaum milenial akan tumpah ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Bangkok dan lainnya yang sudah terlebih dahulu mengembangkan destinasi digital.

Destinasi digital tentu dibuat dengan konsep kearifan lokal. Entah budayanya, makanannya, pernak-perniknya dan sembarang pendukungnya. Jadi meski ada 100 destinasi digital di negeri ini, dijamin semuanya berbeda dan bikin kalian pengen mengunjungi satu persatu.

Mimpi Pak Arief, melalui destinasi digital, Indonesia makin dikenal dunia. Tentang keindahan alamnya, budayanya, juga hal-hal unik lainnya.

Kalau Korea saja bisa mengenalkan budaya K-pop melalui film dan lagu-lagunya, mengapa Indonesia tidak mempopulerkan destinasi wisata yang luar biasa jumlahnya melalui dunia maya? Pasti bisa ya, apalagi kekayaan budaya negeri ini sangat banyak, tidak akan habis dieksplorasi oleh generasi hingga tujuh turunan. Kuncinya, mari difoto, lalu viralkan.

Millenials.

Sebagai warga negara yang baik, wajib bagi kalian untuk mendukung program destinasi digital ini. Bentuk dukungannya mudah dan sederhana. Kalian cukup terlibat aktif menjaga kebersihan, menjaga keramahan dan kesopanan, memberikan ide-ide yang bersifat kebaruan untuk kemajuan obyek destinasi digital. 


Pak Arief Yahya, Menteri Pariwisata (ist/jawapos)

Dan yang penting bantu pak Arief memviralkan melalui media sosial kalian. Tentu melalui foto-foto dan cerita yang indah. Mengapa? Ya, karena Pak Arief mempunyai target mendatangkan wisatawan mancanegara paling sedikit 17 juta orang pada 2018 ini. Tahun depan dinaikkan menjadi 20 juta orang wisatawan manca negara.

Bisakah mencapai target itu? Jawabannya sangat bisa, asal kalian yang kini jumlahnya sekitar  34 persen dari total penduduk Indonesia, terlibat aktif dalam program ini sesuai peran dan bidang masing-masing.

Kalau konten negatif serupa hoaks saja sehari bisa 3.500 kali menyebar di dunia maya kata pk polisi, apalagi konten positif seperti foto-foto tempat wisata. Pasti orang-orang banyak yang ikut memviralkan, membagikan foto, menempelkan emoji jempol, love dan nitip komentar di kolom balasan.

Menjadi kewajiban kalian sebagai generasi bangsa untuk ikut menyukseskan programnya Pak Arief Yahya ini. Bukankah kalau wisatawan mancanegara banyak yang datang ke Indonesia, ada devisa yang masuk dibawa serta? Ujung-ujungnya devisa itu untuk mendukung pembangunan  negeri kita tercinta. Dan kalian adalah bagian dari orang yang menikmatinya.

Millenials

Kalau kalian suka foto-foto di tempat wisata lalu memposting ke media sosial, itu tidak hanya membantu promosi pariwisata. Secara tidak langsung, hobi kalian bisa mendatangkan periuk nasi buat kalian. Tidak percaya?

Coba baca kisah traveller Collete dan Scott Stohler. Pasangan ini hobinya traveling. Lalu hasil travelingnya berupa foto mereka posting dan ceritakan melalui blog dan Instagram. Hasilnya, blog mereka kebanjiran pengunjung. Instagram mereka juga mendapat fans banyak sekali.

Collete dan Scott, influencer yang berhasil meraup pendapatan Rp2,7 miliar per tahun (ist/dailymail)

Hobi pasangan berusia 31 tahun dan 35 tahun tersebut pada akhirnya mengubah perjalanan hidup dan karier mereka dikemudian hari. Ya, pemilik blog dan akun Instagram @Roamaroo yang berbasis di Long Angeles Amerika Serikat itu dikhabarkan mendapat bayaran sekitar US$2.000 per unggahan dan menghasilkan sekitar US$200.000 atau setara Rp 2,7 miliar per tahun.

Mereka hanya bertugas untuk jalan-jalan ke tempat-tempat wisata, makan di cafe atau restoran, mengunjungi pantai dan tempat wisata lain. Syaratnya pasangan ini harus membuat foto yang hits di sosial media, viral di dunia maya dan instagramable. Tidak mudah memang, karena itu dibutuhkan kejelian untuk memilih dan mempotret lokasi-lokasi wisata yang eksotik dan pose-pose foto yang unik.

Pasangan yang semula bekerja sebagai manajer teknik dan biro iklan tersebut akhirnya memutuskan kehidupan nomadennya sebagai wisatawan menjadi ladang bisnis baru yang digeluti. Meski untuk menjadi influencer, sebutan bagi orang - orang yang punya followers atau audience yang cukup banyak di social media, bukan masalah gampang.

“Kehidupan sebagai influencer menuntut kerja keras yang tak kenal lelah mengingat ribuan orang bersaing untuk memperebutkan pasar yang sama,” kata Collete seperti dikutip dari BBC.

Collete dan pasangannya bepergian keliling dunia selama enam bulan dalam setahun dan mereka dibayar untuk mengunggah foto-foto, video, buletin dan blog di situs mereka dan media sosial. 
 
Tidak mudah menjadi influencer, tetapi bisa kan ya Mbak Collete? Semua syarat dan kondisi mendukung generasi milenials di Indonesia untuk menjadi seorang influencer sejati. Jadi tinggal ide, kreativita ditambah kerja keras. Jangan lupa berdoa.

Selain pasangan Collete- Scott Stohler, ada pasangan lain yang juga memperoleh uang dari mengabadikan momen perjalanan di media sosial.

Kit Whistler dan JR Switchgrass, pasangan dari California Selatan ini disebut-sebut telah mengumpulkan lebih dari 150.000 pengikut Instagram saat mereka mendokumentasikan gaya hidup nomaden melalui akun@IdleTheoryBus. Isi akun tersebut menampilkan foto-foto saat mereka berenang di sungai, mendaki di taman nasional, dan momen-momen indah lainnya.

Mereka bereksperimen sebagai influencer pada tahun 2015 dengan modal sendiri, selama lebih dari 3 tahun. Hidup di jalanan dengan van VW berwarna oranye yang berfungsi ganda sebagai rumah, akhirnya pasangan ini memilih untuk menggarap satu proyek jangka panjang dengan perusahaan air minum kemasan. Proyek yang menyumbang sekitar 10 persen dari seluruh pendapatan itu mengharuskan mereka menaruh produk air minum kemasan dalam foto unggahan sebulan sekali.

Demam menjadi seorang influencer ternyata mendunia. Industri ini berkembang dengan cepat. Philip Trippenbach, Kepala Influencer Edelman, sebuah perusahaan pemasaran global menyebutkan 75 persen dari kliennya berencana meningkatkan pengeluaran untuk influencer tahun depan. Benar-benar mirip jaman koboi, katanya.

Menurut Philip, influencer  yang terbaik memang dapat mematok uang jasa sangat tinggi. Ini pantas mereka dapatkan karena selain foto-foto unggahannya bagus, media sosial yang dimiliki juga mendapatkan respon positif dari pengikutnya yang cukup banyak. Biaya rata-rata dari unggahan bersponsor, menurut Adweek tahun 2017, sekitar US$300 atau sekitar Rp4 juta.

Millenials

Sejatinya destinasi digital tak selamanya bakal sukses. Ada banyak lokasi yang ramai pada awalnya. Tetapi beberapa bulan kemudian pada tutup karena sepi, pengunjung dilanda bosan. Sudut-sudut foto pun jadi pudar rusak dimakan rayap. Sebut saja Jembatan Kuning di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Jembatan tersebut awalnya digadang-gadang menjadi ikon bumi Saling Keruani Sangi Kerawati. Tetapi nyatanya fakta di lapangan tak semulus harapan.

Karena itu, kunci supaya destinasi digital tetap hidup dan menarik, perlu pembaharuan terus menerus. Pengelola pastinya harus update dengan perkembangan jaman. Penampilannya harus dipoles-poles secara berkala. Jangan sampai destinasi wisata yang dibangun dengan biaya tak sedikit hanya berlaku hangat-hangat tahi ayam. Jangan sampai wisatawan datang untuk yang pertama dan yang terakhir kali.

Selain itu, penting dukungan sarana prasarana lainnya. Semisal tempat makan, menu yang unik, tempat istirahat, tempat shalat, toilet yang bersih, taman bermain, bahkan kalau perlu tempat buat transfer foto-foto. 

Harga yang dipasang jangan aji mumpung. Ingat, yang dihadapi adalah wisatawan milenial, bukan konglomerat. Wisatawan milenial baik yang lokal maupun manca negara itu modal utamanya adalah keinginan mendapatkan pengalaman, bukan dibesaran uang jajan.
  
Hasil survei yang dilakukan Everbrite Haris Poli 2014 yang menyebutkan bahwa generasi milenial lebih suka berburu pengalaman dibanding membeli produk material menjadi kata kunci untuk menghidupkan destinasi digital ini. 


Destinasi digital dalam perspektif pengguna facebook

Nah, untuk menjaga destinasi digital tetap menarik dan dikunjungi banyak wisatawan, mutu dan kualitas sangat menentukan. Dan menjaga mutu dan kualitas, tentu tidak cukup pemerintah daerah, tetapi peran masyarakat termasuk para wisatawannya sangat dibutuhkan. Termasuk penting diperhatikan adalah kemudahan untuk mendapatkan sarana transportasi. Tanpa dukungan transportasi, sebagus apapun destinasi digital tidak akan banyak membuat orang mau mengunjunginya.

Oh ya, hal yang tidak boleh dilupakan, setiap kalian hendak memviralkan foto, gambar atau apalah tentang wisata, pilih yang postif dan masuk akal. Sebab saat ini banyak foto maupun konten hoaks yang bertebaran di media sosial, yang terkadang dalam sehari bisa mendapatkan kiriman 4 sampai 5 foto yang sama dari media sosial yang berbeda. Dan itu bikin kita lelah melihatnya, bukan?

By the way, panjang sekali suratnya ya. Semoga kalian tidak bosan membacanya. Kalau perlu kalian hafalkan. Hehehe. Bukan untuk bekal ujian atau penerimaan CPNS tentunya. Tetapi supaya kalian lebih kenal sama Pak Arief Yahya. Menteri Pariwisata yang kalau bicara dunia pariwisata lancar banget kayak hafidz baca Al Qur’an. Sambil merem pun beliau bisa menyebutkan data-data termasuk angka-angkanya. Ide-idenya pun sangat visioner. Hebat pokoknya.

Sekian dulu ya Millenials. Sampai jumpa di lokasi-lokasi destinasi wisata digital. Nanti kita gantian berfoto, sesekali boleh juga selfie bersama. Siapa tahu kita beruntung, bisa berfoto bersama Pak Arief Yahya. Tetapi jangan lupa viralkan di dunia maya dan bikin hits di Instagram kalian.


#Salamwisata
#Destinasidigital
#Generasimilenial
#Digitaltourism
#Viralmediasosial

5 Komentar

  1. kaka aku suka baca tulisanmu . ayo dong bikin lagi

    BalasHapus
  2. tulisannya panjang tapi aku tidak lelah untuk membaca

    BalasHapus
  3. Bagus...aq suka...aq suka...aq suka

    BalasHapus