Rayyan (kanan) bermain bersama teman sekelasnya dilingkungan sekolah

Di sekolah ini, anak-anak biasa bermain dengan kambing, kelinci dan ayam. Mereka juga biasa menghabiskan paginya dengan main ayunan, sepakbola dan petak umpet. Inilah cara mengembalikan anak-anak pada dunianya.

                                        -----------------

Pagi ketika jam masih menunjukkan pukul 07:00. Rayyan Luthfie Ahmad, si kecil yang baru berusia 6 tahun sudah berada di depan sekolahnya SD Tumbuh 4 Panggungharjo, Sewon Bantul, Yogyakarta. Mengenakan baju casual, sepatu kets dan menggendong tas kecil berisi satu buah buku tipis dan pensil serta penghapus.

Ada ketidaksabaran ketika sang ibu melepasnya di pintu gerbang sekolah. Si kecil yang mahir bermain sulap tersebut sudah berlari menuju ruang kelasnya. Mencium tangan ibunya, lalu melambai sambil berteriak kencang mengucap salam.

Meletakkan tas di salah satu kursi, lalu sesaat kemudian sudah berada di lapangan rumput. Berlari-lari mengejar anak kambing, menangkapnya dan mengajaknya bercanda. Tak lama kemudian, belasan anak seusinya sudah bergabung. Mereka tenggelam dalam gelak tawa memecah suasana pagi di lingkungan sekolahnya.

Seorang Ibu Guru, datang menghampiri. Membawa segenggam rumput, untuk makanan si anak kambing. Bergabung dengan murid-muridnya, ikut terlibat dalam kegiatan dan permainan. Sesekali Bu Guru mengajarkan beberapa hal tentang rasa sayang, termasuk kepada hewan. Belasan anak kecil pun menimpali setiap kalimat yang disampaikan Bu Guru dengan beragam komentar dan pertanyaan. Lalu proses belajar pun sudah dimulai.


Suasana sekolah yang menyenangkan di SD Tumbuh 4 Bantul

Tak ada bel berdentang yang membatasi rasa keingintahuan siswa. Mereka bebas bertanya, bebas berekspresi. Perpindahan antar mata pelajaran dilakukan oleh Bu Guru dengan cara yang manis. Sehingga anak tetap terjaga suasana gembiranya hingga jam sekolah usai.

Kelas berlangsung untuk mengajarkan tentang kedisplinan dan penghargaan. Di kelas, anak diajak untuk mendengarkan temannya bercerita, mendengarkan dongeng gurunya. Kemudian mendapatkan kesempatan mengekspresikan perasaannya.

Maka ketika jam sekolah sudah berakhir, pada sebagian anak termasuk Rayyan seperti ogah meninggalkan sekolah. Mereka masih meminta tambahan atau ekstra waktu untuk bermain di sekolah.

Ya, sekolah sudah menjadi rumah keduanya. Di sekolah, Rayyan bisa berjumpa dengan Bu Guru, sosok baik yang mengajarkan berbagai hal. Berjumpa dengan teman sekelasnya yang bisa diajak bermain dan bergembira.

Sekolah, telah memberikan kesempatan kepadanya untuk mengenal dunia nyata, dunia yang seharusnya berada disisi perkembangan anak.

Saya terpesona pasti

Duduk sepagian di ruang tunggu SD Tumbuh 4 membuat saya terpesona. Konsep pendidikan yang diterapkan di sekolah ini benar-benar sesuai dengan angan-angan saya. Ya, sebagai orang tua yang mendapati bagaimana anak saya tumbuh dalam sekolah yang dipenuhi oleh target-target pencapaian guru maupun kepala sekolah, di kawasan Jakarta Selatan, saya merasa tidak beruntung. 


Anak saya bersama adik dan sepupu usai menengok SD Tumbuh 4

Mengapa saya tidak tinggal di Panggungharjo, Bantul, dan menyekolahkan anak-anak di SD Tumbuh 4? Mengapa dahulu saya harus menyekolahkan anak di SD negeri berstatus Sekolah Rintisan Berstandar Internasional alias RSBI. Kebanggaan apa yang saya peroleh ketika dunia main anak-anak terampas dengan hebatnya oleh beban pelajaran yang dilakoninya selama 6 tahun? Kebanggaan apa yang bersisa ketika punggung anak saya, membawa beban tas berisi tumpukan buku pelajaran sedemikian beratnya? Sekolah dengan berbagai target itu tentu melelahkan anak saya. Maafkan Ibumu, Nak.

Saya masih ingat, ketika anak saya yang baru berusia 6,5 tahun dipaksa bangun jam 5 pagi. Mandi dalam guyuran air dingin, dilanjutkan shalat dan sarapan pagi. Kegiatan makan yang sebenarnya dia paling tidak suka. Makan dalam ketergesa-gesaan, sambil saya mengepang rambut dan mengenakan seragam putih merahnya. Jam yang menempel di dinding kamarnya menjajah dengan sempurna pagi anak saya.

Kegiatan itu berlangsung 6 tahun. Dan saya tidak menyadarinya sebagai hal yang sebenarnya menyiksa hari-hari anak saya.

Kalau kemudian saya memberikan pilihan pada anak saya untuk menentukan SMP yang dia inginkan, itu semata karena saya ingin membuatnya rileks sedikit. Sedikit saja, dengan tidak memasukkan dia ke dalam sekolah dimana anak-anak pintar dan kaya berkumpul. Belajarlah dalam situasi rileks, tidak dikejar dengan persaingan, tidak dikejar dengan target-target yang muluk-muluk.

Tak peduli dengan nilai NEM-nya yang hampir sempurna. Tak peduli dengan deretan piagam dan riwayat perolehan beasiswanya. Simpan rapat dalam lemari, lalu mulailah menikmati duniamu, Nak.

Saya ingin ego dan ambisi saya memiliki anak berprestasi bisa diredam. Karena ambisi orangtua bukanlah hal menguntungkan untuk proses tumbuh anak. Itu menurut saya.

Saya juga ingin kepala anak saya tidak mendongak ke atas terus menerus. Sebab di kanan kirinya, di sekitarnya, tidak saja anak-anak berkemampuan ekonomi pas-pasan, miskin atau malah yatim piatu. Di kanan kirinya, malah mungkin teman sebangkunya ada yang begitu sulit mencerna dan memahami mata pelajaran. “Maka bantulah Nak, jadilah guru bagi temanmu sejak sekarang. Berlatihlah berbagi ilmu, agar amal itu dicatat dan pahalanya mengalir lebih panjang.”

Keikutsertaan anak saya dalam berbagai even lomba, termasuk Olimpiade Sains Nasional itu hanya secara kebetulan. Kebetulan anak saya dipilih, kebetulan anak saya dipercaya. Maka pada setiap keberangkatannya mengikuti berbagai even perlombaan, saya selalu berpesan, ikutilah dengan rasa senang. Tetapi janganlah berlebihan. Mengalirlah dan jangan terbebani target perolehan. Silakan berprestasi, tetapi jangan lupa untuk tetap berbahagia.

Kini, anak saya sudah duduk di SMA. Ia memilih sekolah yang jaraknya hanya 1,2 Km dari rumah dan bisa ditempuh dengan ojek online. Jarak yang dekat adalah satu-satunya alasan mengapa anak saya menjatuhkan pilihan di SMA yang sekarang. Ya, jarak dan ketenangan.

Jarak sekolah tersebut tak jauh berbeda saat ia duduk di sekolah tingkat lanjutan pertamanya. Sekolah yang sebenarnya semua guru menginginkan anak saya tetap bertahan dan melanjutkan di perguruan yang sama.

Sekali lagi, saya tidak bisa memaksa. Jika anak saya ingin berganti suasana, ingin mendapatkan teman baru, saya pun memahaminya. Saya, Ibu yang ingin selalu mendampingi anak dalam suasana seperti apapun. Bahkan ketika pernak-pernik perilaku anak di lingkungan kelas dan sekolahnya yang baru, yang membuat saya dipanggil Guru Bimbingan Konseling untuk ketiga kalinya, harus saya alami. Tak mengapa Anakku sayang.


Anak saya pun sudah SMA

  Bagi saya, setiap anak memiliki takdirnya masing-masing. Semua sudah tertulis dalam kitab Lauh mahfuzd, yang dicatatkan Allah saat anak masih dalam kandungan. Takdir baik akan disongsong bersama doa orangtua. Takdir buruk akan dihadapi dengan kekuatan doa orangtua dan ketaatan pada Sang Maha Pencipta.

Memorial menjadi guru

Awal saya datang ke Jakarta, dua tahun lamanya menjadi guru. Siswa yang saya hadapi adalah siswa remaja usia SMP dan SMA di bilangan Manggarai Selatan, Jakarta Selatan. Sekolah swasta dengan input siswa yang IQ-nya sedang-sedang saja. bahkan ada yang berkategori sulit menangkap pelajaran.

Soal bandel, itu sudah biasa. Dalam sehari, saya pasti mendapati satu atau dua siswa yang kepergok melakukan pelanggaran. Mulai dari merokok, baju tidak dimasukkan, terlambat jam pelajaran, membolos, tidak mengerjakan PR atau rambut gondrong. Kadang ada juga siswa yang berantem, hobinya tawuran.

Saya, guru yang lahir dari IKIP yang kemudian berubah menjadi Universitas Negeri Yogyakarta. Empat tahun digodok dalam kawah candradimuka calon guru, membuat saya paham bagaimana psikologi pendidikan dan psikologi perkembangan anak. Maka meskipun saya tergolong guru yang galak, tepatnya mungkin tegas, anak murid berhasil menempatkan diri sebagai teman ngobrol dan curhat saya.

Saat malam minggu tiba, terus terang, saya diapeli mereka, murid-murid saya yang datang dalam jumlah 5 bahkan 10 orang. Ya, bagaimana saya punya pacar kalau begini?


Di sela perpisahan anak saya di MTs Al Khairiyah

Beberapa tahun setelah saya pamit, dan memilih menekuni dunia tulis menulis, beberapa anak yang pernah saya ajar, mengirimkan surat. Mereka kangen dan ingin saya kembali mengajar. Tetapi dunia saya memang tidak di sana, tidak dilingkungan sekolah, tidak di depan kelas. Maafkan Bu Guru Nak.

Lalu saya pun menyempatkan diri ketika beberapa mantan murid saya datang meminta bergabung berlibur di Pulau Tidung Besar, Kepulauan Seribu, Jakarta setahun setelah saya meninggalkan profesi guru. Meski hanya sehari semalam, tetapi kesan itu akan tetap tertanam sebagai kenangan manis sepanjang kehidupan saya. Kenangan manis seorang mantan guru. Semoga kalian, anak-anak murid saya, sukses menjalani kehidupan. 


#dunianak
#sekolahramahanak

2 Komentar