Ini biskuit palsu bubur kertas karya Rindang. Kayak biskuit beneran yak

Rumah ini menghasilkan kertas sedemikian produktifnya. Ibarat baru dirapihkan sepekan lalu,  pekan depan semua bagian sudah terisi lagi kertas-kertas. Dari meja makan, meja kerja, meja belajar, meja rias dan dapur. Jangan tanyakan meja komputer yang bertentanggaan dengan rak buku. Pasti lebih dahulu penuh dibanding meja-meja lainnya.

Kedua anakku Dinda Rindang dan Kenya Maharani sudah terbiasa melihat gunungan buku, dan kertas-kertas sejak bayi merah. Malah, sekalinya dirapihkan itu buku, terasa aneh bagi kedua putriku. Walhasil dalam sekejap itu buku di rak terjun bebas berceceran dimana-mana. Apalagi kalau liburan akhir pekan. Jangan harap rumah ini rapih.




Sudah dua pekan lebih, saya mengeluarkan maklumat, tentang pengurangan intensitas main laptop maupun hape. Terutama si bungsu Dinda Rindang. Ia hanya boleh buka laptop di akhir pekan. Itupun dibatasi hingga beberapa jam menjelang berakhirnya Minggu.



Awalnya merajuk penuh protes. Bete karena bingung memanfaatkan waktu luang. Sekedar naik sepeda, bosan juga.

Apa akal? Meski suka bete dan protes, akhirnya ia punya mainan baru. Masih berhubungan dengan kertas.

Ini dia kreasi Dinda Rindang

Bubur kertas siap dibentuk dan diwarnai

 “Ambil beberapa lembar kertas, jenisnya apa saja. Boleh kertas HVS sisa press release, koran atau kertas buku. Terpenting kertas sisa.

Rendam kertas-kertas tersebut dalam wadah plastik 15-30 menit,  hingga hancur. Lalu remas-remas. Kalau perlu ditumbuk pakai kayu atau pensil berujung runcing. Lakukan hingga benar-benar hancur.

Peras bubur kertas hingga airnya tuntas. Biarkan tetap basah. Lalu campurkan lem kertas dengan perbandingan 2:1. Artinya 2 bagian kertas, dicampur aduk dengan satu bagian lem kertas. Lakukan hingga benar-benar rata tercampur.

Catatan: lem kertasnya bisa bikin sendiri dari bahan tepung singkong yang dicampur air lalu direbus, diaduk hingga mengental. Hasinya akan sama bagusnya kok. Malah bisa lebih memastikan bahwa lemnya aman nyaman dan sehat tanpa bahan kimia.

Bentuk bubur kertas yang sudah tercampur dengan lem tersebut, sesuai keinginan. Bisa dibuat ikan, bulatan kecil sejenis koin, donat, bunga atau bentuk lainnya.

Kalau sudah, letakkan benda-benda tersebut diruangan terang, berangin atau bisa juga panas. Biarkan hingga kering.


Cantiknya, buat teman mouse ibunya saat ngedit tulisan

Jika sudah kering betul, benda yang terbuat dari bubur kertas akan terasa ringan. Warnai menggunakan cat minyak (cat lukis) sesuai keinginan.

Maka tralalalaaaaa...Bubur kertas pun berubah menjadi benda-benda cantik. Cocok buat mainan si kecil. Aman karena nggak tajam, aman juga karena tidak mengandung zat kimia.

Aman juga karena nggak perlu merogoh isi dompet ibunya.
So, aman juga karena anak jadi kreatif. “

Sewajarnya, kalau kertas-kertas bekas sudah disulap jadi mainan, rumah jadi bersih. Nyatanya, kertas malah kayak beranak pinak. Itu lantai nyaris nggak pernah bersih dari guntingan kertas-kertas warna. Why?

Daya kreativitasnya berkembang, daya imajinasinya melejit. Jika kertas koran dan kertas bekas buku saja bisa dibikin benda-benda unik nan bagus, pasti akan lebih cakep kalau bahan dasarnya kertas warna. Itu pikirnya. Alhasil, ia pun makin berkreasi dengan kertas-kertas warna. Paling banyak dikorbankan, kertas origami di kakak, atau sering colek-colek kertas nota ibunya. 

Jadi, jangan bertanya kapan rumah bersih dari kertas-kertas...Hahaahaaaa...


Capak berkreasi, kembali ke alam, manfaatkan novel buat bacaan

Baiklah cantik, mari terus berkreasi. Jangan sampai Ibumu memanggil tukang barang bekas sekedar menawarkan koran, buku dan kertas untuk dijadikan bungkus gorengan..


#salamadek
#selamatberkreasi 
#biarkanrumahpenuhkertas

0 Komentar