SELAIN sayuran, buah dan makanan, penghuni kulkas yang sering terlihat adalah obat. Coba buka kulkas, lihat kotak yang nempel dipintu. Nah disitu orang suka menyimpan obat utamanya dalam sediaan sirup.😄

Tujuannya, supaya awet. Obat sisa pakai yang masih lumayan banyak, disimpan dikulkas. Jadi sewaktu-waktu sakit lagi, tak perlu repot-repot ke apotek atau toko obat.

Sekilas itu solusi yang tepat. Logikanya, sayur dan buah saja tidak lekas busuk. Apalagi obat yang bukan produk yang gampang rusak atau gampang busuk.😲😲

Tetapi keputusan menyimpan obat dalam kulkas ternyata tidak tepat. Bukan hanya membuat obat rusak, manfaat atau khasiat obat pun bisa berkurang. Karena proses penyimpanan obat dengan suhu kulkas yang rata-rata 8 hingga 10 derajat celcius, membuat obat berbentuk sirup jadi beku.

“Sirup kan sering ada kandungan gulanya. Gula kalau masuk kulkas pasti akan mengkristal,” kata Indri Mulyani Bunyamin,  Ketua Hisfarkesmas di sela Gathering Blogger and Journalist: Be Smart  and Fun with Pharmacists, yang digelar Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Sabtu (29/9). Acara yang digelar di kantor IAI tersebut dalam rangka memperingati World Pharmacists Day yang jatuh 25 September 2018.

Dalam setiap kemasan obat, produsen selalu menuliskan cara penyimpanan obat yang benar. Tentu masing-masing sediaan berbeda. Ada yang memang harus disimpan dalam kulkas seperti vaksin, obat untuk vagina (ovula) dan anus, serta insulin yang belum digunakan. Tetapi umumnya obat yang dikonsumsi masyarakat hanya perlu disimpan di suhu ruangan. Kisaran suhunya antara 25 hingga 28 derajat celcius.

Hanya saja, acapkali masyarakat tidak yakin, apakah dengan menyimpan obat disuhu ruangan tidak akan membuat obat cepat rusak. Apakah sirup yang disimpan disuhu ruangan tetap bisa digunakan setelah disimpan berbulan-bulan.

Indri mengatakan setiap obat memiliki masa kadaluwarsa. Tanggal kadaluwarsa selalu tercetak jelas dan mudah ditemukan dalam kemasan obat.

Menjadi masalah kalau obatnya berbentuk cair atau sirup. Jika sudah dibuka, obat dalam bentuk sirup menurut Indri masih tetap aman digunakan selama tidak melebihi 6 bulan pasca
tutup botol dibuka.

“Tetap simpan dalam suhu ruangan, ditutup rapat dan botol maupun tutupnya dalam kondisi bersih. Insya Allah tetap bisa digunakan sebelum 6 bulan,” tambahnya.

Saat obat bersisa, tidak lagi digunakan, atau sudah masuk tanggal kadaluwarsa, jangan mengambil risiko dengan tetap menyimpannya. Sebab salah-salah, ada anggota keluarga yang meminumnya. Akibatnya bisa fatal, keracunan obat atau kejadian lain yang tidak diinginkan.

Obat yang sudah tidak dipakai lagi, sebaiknya segera dibuang. Cara membuangnya pun harus sebijak mungkin. Misalnya menghancurkan dahulu sediaan obat dalam bentuk tablet atau kapsul, lalu dicampur air dan dibuang. Untuk obat dalam sediaan sirup, membuangnya juga harus dituang dari botolnya. Intinya, jangan membuang obat dalam bentuk masih utuh pada sediaan atau wadahnya.

“Ini untuk mengantisipasi pihak-pihak tak bertanggungjawab memanfaatkan obat yang sudah rusak atau kadaluwarsa,” tutur Indri.

Temu media dan blogger dalam rangka hari apoteker sedunia 2018

Kenali cara menggunakan obat

Lalu hal penting apa yang harus dikenali seputaran penggunaan obat?

Setiap kita membeli obat, pasti pada kemasan obat kita menemukan penandaan berbentuk lingkaran. Kenali penandaan tersebut agar kita tidak salah memilih dan menggunakan obat. Penandaan berbentuk lingkaran dengan warna hijau artinya obat bebas. Obat kelompok ini bisa dibeli bebas tanpa resep dokter.

Obat dengan lingkaran biru laut. Ini adalah untuk kelompok obat bebas terbatas. Artinya obat tersebut masuk golongan obat keras yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Pada kemasan selalu ada peringatan P1-P6.  Obat jenis ini bisa dibeli di apotek dan toko obat berizin.

Lalu ada juga logo lingkaran merah dengan huruf K ditengahnya. Ini menjadi penanda bahwa obat tersebut termasuk golongan obat keras. Obat jenis ini hanya bisa dibeli dengan resep dokter dan di apotek.

Ada juga logo lingkaran berwarna putih dengan tanda plus merah ditengahnya. Ini menjadi penanda bahwa obat tersebut masuk dalam kelompok narkotika. Untuk mendapatkan harus dengan resep dokter, harus ada laporan dan hanya bisa dibeli di apotek.

Untuk mendapatkan obat dengan benar, Indri membagi tipsnya. Diantaranya adalah perhatikan penggolongan obat, perhatian peringatan yang ada di brosur dan kemasan serta perhatikan pula tanggal kadaluwarsanya.

Jangan lupa baca aturan pakainya dengan benar. Segala hal yang tertulis dalam kemasan produk obat, adalah panduan yang harus ditaati oleh setiap pasien atau orang yang meminum obat. Mulai dari kandungan obat, kontraindikasi, efek samping yang harus diwaspadai, lama penggunaan obat yang diperbolehkan serta siapa saja yang tidak boleh meminum obat yang dimaksud.

Nah untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam penggunaan obat, menurut Indri penting dikenali masing-masing obat dan cara meminumnya. Ada kalanya obat diminum sebelum makan, setelah makan, sebelum tdur, malam hari atau pagi hari. Petunjuk penggunaan obat tersebut tentu berkaitan dengan efek samping yang mungkin bisa ditimbulkan akibat penggunaan obat.

Indri juga mengingatkan untuk meminum obat, sebaiknya gunakan air putih atau air mineral. Hindari teh, apalagi susu, kopi dan minuman bersoda. Sebab minuman berwarna memiliki kandungan zat tertentu yang bisa membuat efek obat berkurang. Misalnya kandungan kafein pada kopi akan mengikat protein sehingga obat menjadi sulit larut dalam darah.

Bagaimana jika ingin mengkombinasikan penggunaan obat kimia dengan herbal? Sepanjang kita awam terhadap kandungan obat herbal, Indri menyarankan jangan lakukan konsumsi obat herbal dan kimia secara bersamaan.




“Sebaiknya berikan jarak waktu antar kedua jenis obat tersebut, sekitar dua jam untuk menjaga semuanya aman,” katanya.

Indri mengingatkan bahwa penggunaan obat harus dilakukan dengan bijak dan tepat. Data menunjukkan 50 persen kematian didunia akibat salah meresepkan obat. Dan 35 persen balita yang meninggal akibat resisten terhadap obat.

Karena itu setiap kita mendapatkan obat, jangan lupa tanyakan lima O. Yakni Obat ini nama dan kandungannya apa, Obat ini khasiatnya apa, Obat ini berapa dosisnya, Obat ini bagaimana menggunakannya dan Obat ini apa efek sampingnya.
 
Pentingnya peran apoteker

Obat adalah produk yang sifatnya membantu tubuh untuk melawan penyakit. Meski mampu membantu membunuh penyakit, sejatinya obat adalah racun. Karena itu penggunaannya harus diatur ketat.

“Over dosis obat hanya akan membuat organ tubuh bermasalah. Bahkan dalam sejumlah kasus bisa menimbulkan kematian,” kata Noffendri Roestam, Sekjen Pengurus Pusat IAI.

Untuk membuat obat tetap pada kedudukannya sebagai produk ‘pembantu’ tubuh, peran apoteker sangatlah penting dan strategis. Tidak hanya pada titik penggunaan obat oleh konsumen, apoteker juga penting pada lini penyediaan obat lainnya. Seperti proses produksi, distribusi, penjualan di apotek hingga sampai ke tangan pasien.

Dalam proses produksi, jelas Noffendri, apoteker berfungsi sebagai pihak yang memahami kandungan, takaran dan dosis obat yang akan diproduksi. Dalam lini distribusi, apoteker perlu hadir untuk memastikan bahwa proses distribusi tidak akan merusak isi, kandungan maupun kemasan obat.

Noffendri Roestam, Sekjen Pengurus Pusat IAI

“Distribusi obat harus dilakukan sangat hati-hati. Mana-mana jenis obat yang harus dijaga dalam suhu rendah, tentu harus menggunakan frezeer atau peralatan lain yang memungkinkan obat tidak rusak,” tambahnya.

Pada lini penjualan obat di apotek, seorang apoteker harus hadir untuk memastikan bahwa obat yang diberikan kepada konsumen sesuai dengan resep dokter atau sesuai dengan keluhan sakit pasien. Obat keras atau obat jenis psikotropika misalnya, hanya bisa dikeluarkan oleh apoteker berdasarkan resep dari dokter.

Sayangnya, di lapangan masih sering ditemukan apoteker memberikan obat daftar G atau obat keras ke konsumen tanpa resep dokter. IAI menghimbau agar apoteker taat aturan dan kode etik yang ada, agar tidak dicabut ijin praktiknya sebagai apoteker.

Saat ini di IAI mencatat ada 72 ribu apoteker yang terdaftar memiliki surat ijin praktik. Dari jumlah tersebut 75 persennya adalah wanita. Mereka bekerja pada industri farmasi, apoteker, unit farmasi rumah sakit, dan distribusi obat.

#bijakgunakanobat 🙏

0 Komentar