MEMBACA buku berjudul Serangga Layak Santap yang ditulis pakar gizi Prof. Dr. Ir. FG. Winarno, MSc, ingatan saya terus terang langsung melanglang buana. Masa kecil saat saya hidup di desa sekitar tahun 1970-an.

Sebuah desa bernama Jatisari, kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Desa dengan lahan sawah yang masih sangat luas kala itu.

Ya, buku Serangga Layak Santap salah satunya membahas serangga makanan khas anak-anak desa jaman dahulu. Belalang sawah yang amat mudah ditemukan dihamparan sawah terutama usai masa panen padi.

Bagi anak-anak desa,menyantap serangga bukan hal yang baru. Tetapi tentu saja saat ini tidak berpikir tentang kandungan protein pada serangga. Atau soal diferensiasi pangan lokal.

Sejatinya, anak-anak desa menyantap serangga karena saat itu pangan masih langka. Tak ada jajanan yang super lengkap model jaman sekarang. Tak ada uang jajan yang membuat anak-anak leluasa makan camilan.

Dalam buku setebal 150 halaman, Winarno menuliskan bahwa kebiasaan memakan serangga bukan saja dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Di sejumlah negara seperti Thailand, Laos, Myanmar, Kamboja, China dan beberapa negara di Amerika Latin dan Afrika juga memiliki kebiasaan yang sama.

Winarno menyebutkan saat ini jumlah serangga di dunia mencapai 1,5 juta jenis dari 15 juta jenis serangga yang belum teridentifikasikan. Jumlah tersebut merupakan 90 persen dari semua jenis binatang, sehingga dapat dikatakan serangga mendominasi hewan lainnya baik dari segi jumlah, keanekaragaman jenis, maupun penyebarannya.

Adapun sebarannya mulai dari antartika sampai tropika, dari laut, air tawar hingga daratan. Diperkirakan serangga muncul di bumi 250 juta tahun silam, jauh lebih lama dari pada manusia yang diperkirakan mulai ada sekitar 500 ribu tahun yang lalu.

Masyarakat di berbagai kawasan di dunia seperti Afrika,Asia dan Amerika Latin telah mengonsumsi serangga sebagai bagian dari menu keseharian. Mereka mengonsumsi serangga bukan saja karena harga pangan konvensional seperti ayam, daging dan ikan yang tak terjangkau. Tetapi juga karena serangga dianggap jenis makanan yang lezat sekaligus sumber alternatif protein.

Sedang di Indonesia, kondisinya tidak jauh berbeda. Kita mengenal antara lain ulat sagu (the sago maggot)  yang banyak dikonsumsi Suku Kamaro, yang hidup di Propinsi Timika, Papua. Masyarakat Suku Kamaro terbiasa mengonsumsi ulat sagu mentah sebagai extreme food.

Lalu cacing Nyale (the nyale worms) yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Pulau Lombok, NTB. Cacing ini diperoleh penduduk setempat dari sela-sela karang. Mengonsumsi cacing nyale dipercaya akan membuat tubuh menjadi kuat.

Ada juga belalang, yang menjadi jenis serangga yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, satu diantaranya masyarakat di Gunung Kidul, Yogyakarta. Masyarakat menyajikan belalang goreng baik dalam rasa original maupun asam manis dan pedas.

Selain belalang, masyarakat Gunung Kidul juga terbiasa mengonsumsi jangkrik, ungkrung, entung, cocoon yang sudah diolah sebagai chips.

Masyarakat Ciamis, Jawa Barat sejak dahulu juga memiliki kebiasaan mengonsumsi jangkrik dengan bumbu khas. Makanan tradisional tersebut banyak dijajakan di warung-warung kecil.

Dan bagi masyarakat yang tinggal di daerah hutan pohon jati seperti di Jawa Timur, mengonsumsi entung jati sudah menjadi kebiasaan mereka.  Entung jati dibumbui sebelum digoreng sehingga menghasilkan makanan yang enak dan gurih. Kadang dijadikan lauk teman nasi, tapi ada juga yang dimakan sebagai camilan.

Mengapa mengonsumsi serangga belum populer meski sudah dilakukan masyarakat sejak jaman dahulu? Pada halaman 21, Winarno menuliskan adanya prasangka atau common prejudice menjadi hal umum yang terjadi di masyarakat terutama terkait menyantap makanan yang tidak lumrah.

“Mengubah kebiasaan makan sama sukarnya mengubah keyakinan dan agama seseorang. Jadi meski serangga banyak mengandung protein, membiasakan masyarakat mengonsumsi serangga juga tidak mudah,” paparnya.

Tetapi melalui ulasannya, Winarno berhasil mengantar ingatan kita bagaimana sejarah antropoda, seperti halnya lobster dan shrimps yang pernah dianggap sebagai poor-man’s food di masyarakat barat. Namun lihat sekarang, bagaimana dua jenis anthropoda tersebut sudah menjadi makanan mewah dan mahal.

Lalu perhatikan pula perjalanan rumput laut (seaweed) atau alga/ganggang laut yang dulu ditolak masyarakat. Saat ini seaweed menjadi jenis makanan yang exotic atau niche.

Winarno lebih lanjut menuliskan bagaimana mayones yang menggunakan tepung dari ulat atau larva lebah berhasil meraih pasaran, bukan karena kelangkaannya tetapi fungsinya yang unik yang lebih dihayati oleh masyarakat.

Sebagian dari kita mungkin mengenal produk energy bars, yang banyak ditemukan di beberapa toko di USA. Ini adalah produk biskuit yang terbuat dari tepung belalang.

Atau mungkin juga prehispanic snackers, yakni jenis hidangan yang termasuk didalamnya adalah cacing tanah. Sebuah bar terkemuka di Paris berhasil menyajikan dalam bentuk insect tapas. Di London, start-up Eat Ento menyajikan hidangan honey cartepillar yang dibungkus sayuran segar.

Winarno menjelaskan bahwa serangga memiliki berbagai keunggulan dibanding hewan ternak pada umumnya. Dua keunggulan tersebut diantaranya bernilai gizi yang tinggi dan ramah lingkungan.

Jika dunia saat ini sedang disibukkan dengan pencarian pangan alternatif, bagi Winarno, serangga bisa menjadi pilihan untuk dikembangkan lebih lanjut. Karena itu melalui buku ini Winarno berharap akan terbuka peluang lebih luas lagi bagi masyarakat untuk menjadikan serangga sebagai sumber pangan alternatif yang sehat, ramah lingkungan serta mudah didapat dan diolah.

0 Komentar