LIBUR semester sudah tiba. Tetapi Rani masih belum punya rencana. Mau diisi apa liburan selama hampir dua pekan ini. Ke rumah nenek di kampung, jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Padahal ia tahu, kedua  orangtuanya sedang tidak banyak uang. 
 
Sebenarnya Rani ingin mengunjungi candi Borobudur dan Prambanan. Ia ingin tahu seperti apa bangunan bersejarah yang konon katanya dibangun dengan tumpukan batu gunung tanpa menggunakan perekat, baik lem maupun semen.
 
Ibu guru IPS di sekolahnya bilang bahwa Candi Borobudur menjadi salah satu keajaiban dunia. Banyak turis asing dari berbagai negara berkunjung ke sana . Kalau saja ia bisa melihatnya, berarti ia bisa melihat salah satu keajaiban dunia. Uh, pasti senang dan bangganya Rani.
 
Tetapi begitu mengingat orangtuanya, Rani buru-buru mengurungkan niatnya. Usaha papa sedang mati suri. Sudah setengah tahun ini order konveksi papa sepi pesanan. Katanya, barang-barang papa kalah sama barang-barang China yang harganya jauh lebih murah.
 
Papa sebenarnya sudah mencoba banting setir dengan membuka warung makan di pinggir jalan besar. Usaha ini telah membuat mobil satu-satunya yang dimiliki keluarga Rani terpaksa harus dijual. 
 
Meski sudah banyak uang dikeluarkan, warung makan papa tak kunjung ramai. Padahal masakan mama tak kalah enak dengan masakan restoran berkelas. Mungkin kurang promosi, jadi belum banyak orang mengenalnya.
 
Terakhir kali Rani masuk sekolah, Bu Guru Isma menyuruh satu per satu murid kelas III B maju ke depan kelas untuk bercerita tentang rencana liburan. Dony yang papanya seorang diplomat, berencana ingin berlibur ke tempat papanya tugas kota Shizuoka di Jepang. Ia ingin menyaksikan bunga sakura yang tengah mekar. Kebetulan liburan kali ini bersamaan dengan datangnya musim semi di negara matahari terbit itu.

Lalu Litha, bercerita mau berkunjung ke rumah nenek di Klaten. Naik pesawat turun di Bandara Adi Sumarmo Yogyakarta sekalian mampir ke Jalan Malioboro yang terkenal itu. Litha mau memborong baju batik dan pernak pernik kerajinan khas kota pelajar tersebut. Ia juga berencana ke Kota Gede, melihat langsung proses pembuatan barang-barang perak.

Sedang Shaffa yang sekolahnya tiap hari diantar sopir pribadi, katanya mau berlibur ke pulau Dewata Bali bersama seluruh anggota keluarga. Ia akan menghabiskan sepekan penuh waktu liburannya untuk bermain di pantai Kuta. Sambil melihat turis dari berbagai pelosok dunia. Siapa tahu bisa sekalian kenalan dengan salah satu diantara mereka.

Ke Pulau Bali ? Pulau dengan sejuta pura yang indah? Membayangkan saja, sungguh sangat menyenangkan. Tetapi Rani?

Beruntung ketika tiba giliran Rani maju ke depan kelas, bel tanda pelajaran usai berdentang. Rani selamat. Ia tidak perlu mengarang cerita bohong tentang rencana liburannya. Padahal semula ia ingin bercerita bahwa papa mamanya mengajaknya melihat candi Borobudur yang tersohor itu. Meski Rani tahu, itu tidak mungkin terjadi ditengah kesulitan ekonomi yang kini tengah melanda keluarganya. “Ah, akhirnya aku nggak perlu bohong,” katanya pelan waktu itu.

Kini hari liburan sudah tiba. Hari pertama, Rani sudah mulai merasa kesepian. Komplek rumahnya yang biasanya ramai anak-anak lalu lalang sekolah, mulai hari ini sepi. Hanya motor tukang ojek dan beberapa bajaj sempat lewat. Itu pun tidak banyak.

Sinar matahari pagi yang hangat sudah menyeruak menyapa Rani yang tengah duduk diteras. Mandi sudah, sarapan sudah, menyiram bunga sudah. Tak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan Rani lagi. Adik masih terlalu kecil untuk diajak bermain bersama.

Akhirnya Rani memutuskan membaca majalah yang tersusun di meja teras. Ia membuka-buka majalah lama. Majalah anak-anak yang pernah dibelinya secara rutin ketika usaha papa masih maju. Langganan majalah itu berhenti begitu papa sudah mengeluh susah uang. Padahal jujur Rani sangat suka dengan majalah anak-anak itu. Selain cerita bersambungnya yang bikin penasaran, artikel-artikel tentang ilmu pengetahuan yang disajikan sangat membantunya menguasai pelajaran sekolah. Terutama pelajaran IPS dan IPA.

Saking seringnya dibuka halamannya, beberapa majalah sudah nampak sedikit kucel. Ujung-ujungnya sudah berlipat. Cerita tentang putri raja yang ditulis secara bersambung, entah sudah berapa kali ia baca berulang-ulang. Ibaratnya, selain alur dan jalan ceritanya, Rani sudah hafal betul titik komanya. Habis, tidak ada kegiatan lain yang bisa ia lakukan.

Bosan membaca majalah, Rani mulai diserang rasa kantuk. Beberapa kali nampak ia menguap. “Huh, ngapain lagi ya?,” keluhnya. 

Ia bangkit dan mencoba meluruskan punggung dan tangannya yang pegal. Lalu masuk ke kamarnya dan memutuskan untuk rebahan.

Tetapi niatnya untuk tidur pagi mendadak berubah demi dilihatnya tumpukan majalah dan koran di sudut kamar yang sudah seperti gunung. Terlalu tinggi dan tinggal menunggu ambruknya saja. “Kenapa tidak rapi-rapi kamar saja ya,” katanya pelan.

Ya, jadilah siang itu Rani berjibaku dengan tumpukan majalah dan koran bekas dikamarnya. Debu-debu yang menempel di majalah telah membuatnya beberapa kali bersin dan batuk. Matanya juga sedikit pedih akibat kemasukan debu. Rupanya Rani lupa mengenakan masker penutup hidung.

Ketika tumpukan majalah dan koran tinggal separuh lagi, mendadak Rani menghentikan aktivitasnya. Matanya tertuju pada sebuah artikel di koran yang tengah dibersihkannya. Sebuah artikel tentang manfaat bergabung dengan jejaring sosial facebook. Ya, facebook memang sedang naik daun.

Rani beranjak mengambil koran tersebut dan lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia mulai membaca artikel yang ditulis dengan bahasa sederhana dan ringan tersebut.

“Mama kan punya akun di facebook. Aku tahu alamat dan paswordnya. Mengapa aku nggak coba saja…,” ujar Rani seorang diri.

Dikibaskannya debu yang menempel ditangan dan baju. Lalu bergegas ia menggunting artikel berharga tersebut. Selang tak lama kemudian, Rani sudah keluar rumah sambil menenteng kamera digital ditangan kanannya.
            
*****



Besok pagi Rani sudah harus ke sekolah lagi. Liburan semester telah habis. Rani tidak perlu kebingunan untuk menceritakan kegiatan liburannya jika nantinya Bu Guru Isma meminta maju ke depan kelas. Ia tak perlu rendah diri. Ia tak perlu minder dengan Dony, Litha, Zahra atau teman-teman lainya. Ia sudah melakukan kegiatan yang menurutnya tak kalah menarik dibanding yang teman-temannya lakukan. 
 
Bagaimana tidak. Rani sudah membuat warung makan papa jauh lebih ramai pengunjung dibanding sebelumnya. Melalui jaejaring sosial facebook mamanya, diam-diam dia sudah mempromosikan warung papa. Tak hanya daftar menu dan alamat warung makan, tetapi juga foto-foto makanan hasil jepretannya.
 
Tak membutuhkan waktu lama, dalam sepekan saja, wajah-wajah baru penyuka kuliner sudah bermunculan. Rani tahu, mereka bukan penghuni kompleks dimana ia tinggal. Atau karyawan yang berkantor di sekitar warung makan papa. 

Karena membludaknya pelanggan warung makan tersebut, papa sampai harus mengangkat dua pelayan sekaligus dan seorang bibi untuk membantu mama memasak aneka menu makanan di dapur. Dan perubahan itu terjadi hanya dalam waktu sepekan saja.

Bahagia rasanya melihat kedua orangtuanya bersemangat menjalankan bisnis barunya. “Semoga makin laris,” doa Rani dalam hati.
 
Awalnya papa sempat bingung. Bagaimana mungkin jumlah pengunjung bertambah secara mendadak begitu. Papa sempat bertanya kepada mama, namun mama pun hanya bisa menggeleng. “Mama mana sempat promosi ke teman-teman arisan pah. Papa tahu sendiri, mama tiap hari sibuk di dapur,” tutur mama.
 
Keheranan papa berakhir ketika pada suatu hari ada seorang pengunjung yang mengaku ingin bertemu dengan mama. Kepada papa, pengunjung yang usaianya setengah baya tersebut mengatakan bahwa ia berasal dari sebuah stasiun televisi yang menyajikan wisata kuliner secara rutin tiap akhir pekan.
 
“Apa yang istri anda promosikan melalui jejaring sosial facebook memang terbukti…Masakannya benar-benar enak dan mantap terutama gudegnya…Manisnya pas,” puji pria yang berpenampilan rapih tersebut.
 
Papa masih belum tahu apa yang terjadi. Setahu dia, mama tidak pernah kemana-mana. Tidak pernah ke warnet untuk berselancar didunia maya seperti yang sering dilakukan dulu ketika dirumah masih langganan internet. Tiap saat, dari detik ke menit, dari jam ke hari, pagi, siang, malam, waktunya habis untuk mengurus bisnis warungnya. Papa tahu persis itu. Semangat mama memang luar biasa untuk memajukan warung makannya.
 
Belum lagi papa sempat mengomentari pujian pria pembawa acara wisata kuliner televisi, mama datang menghampiri sambil menggandeng tangan Rani.
 
“Ini pah…bangga rasanya punya anak seperti Rani,” kata Mama. Sedikit membungkuk, mama memeluk dan mencium Rani berulangkali. “Tadi teman mama ada yang bilang, promosi yang dikirim melalui akun mama direspon banyak pujian sama teman-teman. Ternyata diam-diam Rani mempromosikan rumah makan kita melalui facebook,” jelas mama kemudian dengan nada bangga.
 
Papa mengernyitkan dahi. Ditatapnya Rani, setengah tidak percaya. Rani mengangguk pelan. Lalu dipeluknya papa dan mamanya. “Maafkan Rani ma…Rani ingin mama dan papa tidak putus asa,” tukas Rani.
 
 “Kenapa minta maaf? Papa dan mama harusnya berterimakasih sama Rani,” jawab papa.
 
Mereka berpelukan. Dua bola mata mama berkaca-kaca. Cairan bening menetes dari mata mama. Ya, mama menangis.  Haru rasanya menyaksikan mama menangis. Rani belum pernah menyaksikan mama sebahagia itu.
 
“Tetapi memang enak kok masakan anda. Besok pagi saya datang ke sini bawa kru kameramen. Saya berharap anda bersedia berbagi ilmu dengan para pemirsa televisi yang mungkin punya cerita sama dengan anda,” sela pria yang ternyata bernama Om Budi tersebut, memecah keharuan diantara mereka.
 
Ya, akhirnya Rani berhasil membuat sebuah cerita indah pengisi liburan sekolah. Ia tidak harus pergi kemana-mana, ia tidak harus menghabiskan banyak biaya. Toh, Rani berhasil mengisi liburan sekolahnya. Bahkan kebahagiaan yang dirasakan, jauh lebih terasa dan menyentuh nuraninya. Terimakasih Tuhan, bisiknya pelan dalam doa. Kini ia bisa membusungkan dada didepan kelas untuk bercerita tentang liburannya. (Key)

0 Komentar