Siswa SD sedang diimunisasi (istimewa/sehatnegeriku)

SETIAP bayi yang baru lahir memang membawa antibodi sendiri. Ia mendapatkan antibodi dari ibunya saat masih berada dalam kandungan. Namun antibodi ini hanya dapat bertahan beberapa minggu atau bulan saja.

Setelah itu, bayi harus mulai memproduksi antibodi sendiri. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) dengan benar disertai asupan nutrisi yang tepat akan membantu anak membentuk kekebalannya. Karena itu banyak ibu yang beranggapan bahwa imunisasi tidak penting selama ASI diberikan dengan baik. Anak sudah akan mendapatkan kekebalan alami.

Tetapi lingkungan hidup yang dihadapi oleh anak dalam proses tumbuh kembangnya terus berubah. Jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi anak semakin bervariasi.  Anak juga akan memasuki lingkungan dengan berbagai macam kondisi. Adakalanya lingkungan yang buruk, penuh cemaran atau polusi, ada kalanya pula anak hidup bersama kelompok masyarakat yang rentan penyakit menular.

Itulah mengapa imunisasi sangat dibutuhkan. Imunisasi akan memberikan kekebalan spesifik terhadap seorang anak. Karenanya, jenis imunisasi sangat beragam tergantung jenis kekebalan yang diinginkan. Ada imunisasi polio, ada imunisasi BCG, hepatitis, BCG, imunisasi DPT, dan lainnya.

“Dengan imunisasi maka anak akan mendapatkan dua kekebalan. Yakni kekebalan alami yang diperoleh melalui ASI dan makanan yang dikonsumsinya, serta kekebalan spesifik yang diperoleh melalui kegiatan imunisasi,” kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek pada pertemuan Kepala Dinas Kesehatan dan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia dari 34 Propinsi, 23 Agustus 2018 lalu.

Jika anak mendapatkan kekebalan ganda, maka tentu saja ia bisa tumbuh lebih sehat dan cerdas, menjadi generasi masa depan yang unggul.

Diakui Menkes, lebih dari 87 persen anak Indonesia sudah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Imunisasi lengkap merupakan upaya  kesehatan yang paling efektif dalam melindungi anak dari wabah, kecacatan dan kematian. Dengan melengkapi lima imunisasi dasar pada anak, diharapkan seluruh anak Indonesia dapat terbebas  dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

“Imunisasi tidak membutuhkan biaya besar, bahkan di Posyandu anak-anak mendapatkan imunisasi secara gratis”, ujar Menkes  seperti dikutip dari laman sehatnegeriku.

Lima jenis vaksin yang diberikan secara gratis di Posyandu tersebut yaitu vaksin Hepatitis B, BCG (mencegah TBC), Polio, DPT/HB (mencegah difteri, batuk rejan, tetanus dan Hepatitis B lanjutan), serta campak (mencegah penyakit campak).

 
Ilustrasi (istimewa/Republika)

Mekanisme imunisasi

Imunisasi adalah program pencegahan penyakit menular yang diterapkan dengan memberikan vaksin sehingga seseorang menjadi imun atau resisten terhadap penyakit tersebut. Program imunisasi dimulai sejak usia bayi hingga masuk usia sekolah. Melalui program ini, anak  diberikan vaksin yang berisi jenis bakteri atau virus tertentu yang sudah dilemahkan atau dinonaktifkan guna merangsang sistem imun dan membentuk antibodi di dalam tubuh mereka.

Antibodi yang terbentuk setelah imunisasi bermanfaat untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri dan virus tersebut di masa yang akan dating,” jelas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono.

Imunisasi itu sendiri ada dua jenis yakni imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Mekanisme kerja imunisasi aktif adalah memasukkan vaksin berupa virus yang sudah dilemahkan dengan tujuan merangsang tubuh membentuk atibodi atau kekebalan spesifik. Imunitas yang diperoleh dari vaksin ini akan bekerja membatasi berkembang biaknya mikroorganisme dan menghentikan serangan berulang pada jenis penyakit yang sama. Sedang imunisasi pasif adalah memberikan antibodi ke dalam tubuh.

Mekanisme pembentukannya sangat komplek meliputi kumpulan organ, jaringan sel dan molekul.

“Melalui vaksinasi, maka anak akan memperoleh imunitas. Dengan imunitas, maka tubuh akan bereaksi saat muncul mikroorganisme penyebab penyakit,” lanjut Dirjen.

Meski demikian, kata Anung imunisasi akan efektif jika diberikan pada usia anak-anak. Karena itulah pemerintah Indonesia menjadikan beberapa jenis imunisasi sebagai paket imunisasi dasar yang wajib diberikan pada anak-anak. Imunisasi dasar tersebut adalah hepatitis B, polio, TBC, difteri, tetanus, pertusis, dan campak.

Metode pemberian vaksin dalam imunisasi itu sendiri beragam, ada yang dengan cara disuntikkan, dimasukkan (ditetesi) ke dalam mulut, atau bahkan disemprotkan ke dalam mulut atau hidung. Sejumlah vaksin ada yang hanya diberikan sekali seumur hidup dan ada juga yang perlu diberikan secara berkala agar kekebalan tubuh terbentuk dengan sempurna.

Dengan imunisasi, kata Anung, sistem kekebalan tubuh anak akan siap untuk menghadapi serangan penyakit tertentu di masa depan, seperti cacar, campak, polio, tetanus, dan gondongan, sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan. Imunisasi juga bisa membantu mencegah epidemi penyakit menular serta menekan pengeluaran karena biaya pencegahan lebih murah daripada biaya pengobatan.

 
Ilustrasi (istimewa/jpp.go.id)

Jenis-jenis imunisasi untuk anak

Jenis vaksin di dunia sebenarnya sangat banyak. Baik yang sudah teruji secara klinis dan mulai dimanfaatkan untuk kegiatan imunisasi maupun yang masih dalam antrean uji klinis. Data WHO menyebutkan setidaknya masih ada 300 jenis vaksin yang saat ini masih dalam proses uji klinis.

Tetapi untuk Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan setidaknya 14 jenis vaksin. Meliputi Hepatitis B, Polio, BCG, DTP, Campak, Hib, PCV, Rotavirus, Influenza, MMR, Tifoid, Hepatitis A, Varisela dan vaksin HPV

“Untuk vaksin hepatitis B, polio, BCG, DTP dan campak merupakan imunisasi dasar yang sudah diwajibkan oleh pemerintah. Sedangkan sisanya merupakan vaksinasi yang direkomendasikan,” jelas Ketua IDAI DR. Dr. Aman Bhakti Pulungan SpA (K).

Lalu kapan masing-masing vaksin tersebut diberikan kepada anak? Mengutip halaman alodokter melalui postingan yang ditulis oleh dr. Marianti , inilah jadwal untuk masing-masing imunisasi.

Hepatitis B

Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi hati berbahaya yang disebabkan oleh virus melalui cairan tubuh dan darah. Pemberian vaksin hepatitis B bisa dilakukan pertama kali pada anak setelah kelahirannya sebelum 24 jam. Selanjutnya vaksin ini bisa kembali diberikan pada saat anak berusia satu bulan dan pemberian ketiga di kisaran usia 3-6 bulan.

Efek samping vaksin hepatitis B yang tergolong umum adalah demam dan rasa lelah pada anak. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah gatal-gatal, kulit menjadi kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.

Polio

Polio merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan, sesak napas, dan terkadang kematian. Pemberian vaksin polio harus dilakukan dalam satu rangkaian, yaitu pada saat anak baru dilahirkan dan pada saat anak berusia dua, empat, serta enam bulan. Vaksin ini selanjutnya bisa diberikan kembali di usia satu setengah tahun, dan yang terakhir di usia lima tahun.

Efek samping vaksin polio yang paling umum adalah demam dan kehilangan nafsu makan, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi berupa gatal, kulit kemerahan, wajah membengkak hingga susah bernapas atau menelan.

BCG

Vaksin BCG diberikan untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau yang lebih dikenal sebagai TBC. Penyakit ini merupakan penyakit serius yang dapat ditularkan melalui hubungan dekat dengan orang yang terinfeksi TB, seperti hidup di rumah yang sama.

Pemberian vaksin BCG hanya dilakukan satu kali, yaitu pada saat anak baru dilahirkan hingga berusia dua bulan. Efek samping vaksin BCG yang paling umum adalah munculnya benjolan bekas suntik pada kulit, sedangkan efek samping yang sangat jarang terjadi adalah reaksi alergi.

DTP

Vaksin DTP merupakan jenis vaksin gabungan. Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit difteri, tetanus dan pertusis. Pertusis lebih dikenal dengan sebutan batuk rejan.

Difteri merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan sesak napas, radang paru-paru, hingga masalah pada jantung dan kematian. Sedangkan tetanus merupakan penyakit kejang dan kaku otot yang sama mematikannya. Dan yang terakhir adalah batuk rejan atau pertusis, yaitu penyakit batuk parah yang dapat mengganggu pernapasan. Sama seperti difteri, batuk rejan juga dapat menyebabkan radang paru-paru, kerusakan otak, bahkan kematian.

Pemberian vaksin DTP harus dilakukan lima kali, yaitu pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 1,5 tahun dan 5 tahun.

Vaksin DTP tidak dilisensikan untuk anak-anak usia di atas tujuh tahun, remaja, atau dewasa. Namun vaksin sejenis yang disebut Tdap bisa diberikan pada usia 12 tahun. Efek samping vaksin DTP yang tergolong umum adalah rasa nyeri, demam, dan mual. Efek samping yang jarang terjadi adalah kejang-kejang.

Campak

Campak adalah penyakit virus yang menyebabkan demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, radang mata dan ruam.Vaksin campak diberikan tiga kali yaitu pada saat anak berusia sembilan bulan, dua tahun, dan enam tahun.

MMR
Selain vaksin campak biasa, ada pilihan alternatif yaitu vaksin MMR yang merupakan vaksin kombinasi. Vaksin ini merupakan gabungan antara vaksin campak,gondong dan campak Jerman.

Gondong merupakan penyakit virus yang menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar parotis di bawah telinga. Gejala lain dari gondong adalah demam, nyeri sendi, dan sakit kepala. Campak Jerman merupakan penyakit virus yang dapat menyebabkan nyeri sendi, pilek, demam, pembengkakan kelenjar di sekitar kepala dan leher, serta munculnya ruam berwarna merah pada kulit.

Pemberian vaksin MMR dilakukan dua kali, yaitu saat anak berusia satu tahun tiga bulan dan saat anak berusia 15-18 bulan dengan minimal jarak 6 bulan dengan pemberian vaksin campak. Pemberian kedua diberikan saat anak berusia 6 tahun. Sebagai patokan, imunisasi campak diberikan dua kali atau MMR dua kali..

Efek samping vaksin MMR yang paling umum adalah demam dan efek samping yang jarang terjadi adalah sakit kepala, ruam berwarna ungu pada kulit, muntah, nyeri pada tangan atau kaki, dan leher kaku.

Banyak beredar isu negatif seputar imunisasi, salah satunya adalah isu autisme akibat pemberian vaksin MMR. Isu tersebut sama sekali tidak benar. Hingga kini tidak ditemukan kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.

Hib

Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi mematikan yang disebabkan oleh bakteri haemophilus influenza tipe B. Beberapa kondisi parah yang dapat disebabkan virus Hib adalah meningitis (radang selaput otak), pneumonia (radang paru-paru), septic arthritis (radang sendi), dan pericarditis (radang kantong jantung).

Pemberian vaksin Hib harus dilakukan empat kali, yaitu saat anak berusia dua bulan, empat bulan, enam bulan, dan  18 bulan. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin Hib adalah reaksi alergi berupa kemerahan dan gatal.

Pneumokokus

Vaksin pneumokokus (PCV) diberikan untuk mencegah penyakit pneumonia, meningitis, dan septikemia yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae.

Pemberian vaksin ini harus dilakukan secara berangkai, yaitu saat anak berusia dua, empat, dan enam bulan. Selanjutnya pemberian vaksin dapat kembali dilakukan saat anak berusia 12-15 bulan.

Efek samping vaksin PCV yang bisa terjadi adalah pembengkakan dan warna kemerahan pada bagian yang disuntik, serta diikuti dengan demam ringan.

Rotavirus

Vaksin rotavirus merupakan jenis vaksin untuk mencegah diare. Pemberian vaksin ini dilakukan secara berangkai, yaitu pada saat anak berumur 10 minggu dan 6 minggu (maksimal pada usia 6 bulan). Efek samping vaksin rotavirus yang paling umum diare ringan. Efek pada bayi dapat menyebabkannya menjadi lebih rewel.

Varisela

Vaksin varisela merupakan vaksin untuk mencegah penyakit cacat air yang disebabkan oleh virus varicella zoster. Vaksin ini diberikan pada anak berusia satu tahun ke atas. Vaksin diberikan dua kali jika anak berusia di atas 13 tahun dengan jarak waktu 4-8 minggu.

Efek samping pemberian vaksin varisela yang tergolong umum adalah kemerahan dan nyeri pada bagian yang disuntik. Dan efek samping yang tergolong lebih jarang adalah ruam kulit.

HPV

Vaksin HPV diberikan kepada remaja perempuan untuk mencegah kanker serviks atau kanker pada leher rahim yang sebagian besar kasusnya disebabkan oleh virus human papillomavirus.  Vaksin HPV dapat diberikan sejak anak berumur 10 hingga 26 tahun. Efek samping pemberian vaksin HPV yang tergolong umum adalah sakit kepala, nyeri, bengkak, gatal, memar, dan merah pada bagian kulit yang disuntik, demam, nyeri tangan dan kaki serta mual. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah urtikaria atau biduran.

Hepatitis A

Vaksin hepatitis A diperuntukkan mencegah penyakit hepatitis A yang disebabkan oleh virus. Vaksin ini harus diberikan dua kali mulai usia 2 tahun. Suntikan pertama dan kedua harus berjarak 6 bulan atau 12 bulan.

Efek samping vaksin hepatitis A yang umum adalah demam dan rasa lelah, sedangkan efek samping yang tergolong jarang adalah gatal-gatal, batuk, sakit kepala, dan hidung tersumbat.

Tifus

Vaksin tifus diberikan untuk mencegah penyakit tifus yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Gejala penyakit ini meliputi demam, diare, dan sakit kepala.Jika tidak segera ditangani, gejala tersebut bisa memburuk, dan menyebabkan berbagai komplikasi, seperti infeksi usus dan perforasi (robek) usus.

Pemberian vaksin tifus bisa dilakukan pada saat anak berusia 2 tahun dengan frekuensi pengulangan tiap tiga tahun sekali. Efek samping pemberian vaksin tifus yang mungkin saja terjadi adalah nyeri, bengkak, dan merah pada bagian yang disuntik, demam, sakit kepala, tidak enak badan, sakit perut dan diare

Influenza

Vaksin influenza diberikan untuk mencegah virus-virus influenza. Vaksinasi pada anak-anak bisa dilakukan sejak mereka berusia enam bulan dengan frekuensi pengulangan satu kali tiap tahun. Efek samping vaksin influenza di antaranya adalah demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Sedangkan efek samping yang jarang terjadi adalah bersin-bersin, sesak napas, sakit pada telinga, dan gatal-gatal.

Dampak ekonomi imunisasi

Pusat Penanganan dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, dalam sebuah rilisnya, April 1999, menyatakan bahwa vaksinasi adalah satu dari sepuluh pencapaian terbaik di bidang kesehatan masyarakat pada abad 20. Karena adanya vaksinasi, taraf kesehatan masyarakat meningkat secara signifikan.

Tidak hanya kesehatan, imunisasi juga memberikan dampak baik bagi ekonomi. Negara mampu menghembat biaya pengobatan triliunan rupiah sebagai dampak dari pembiayaan penyakit yang diakibatkan oleh virus yang bisa diimunisasi.

Prof Soewarta Kosen, Litbangkes 2015 misalnya, menghitung kerugian makro ekonomi yang diakibatkan oleh penyakit Measles Rubella di Indonesia selama lima tahun yakni 2014 hingga 2018 mencapai Rp 5,7 triliun.

Dirjen Anung mengatakan kerugian ekonomi yang ditimbulkan apabila seseorang terkena campak tanpa komplikasi sekitar Rp 2,7 juta per kasus. Lain ceritanya jika campak dengan komplikasi radang paru, radang otak, dan lainnya, bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 13 juta per kasus diluar biaya hidup selama perawatan.

Sementara pembiayaan minimal yang dibutuhkan untuk pengobatan anak dengan CRS mencapai lebih dari Rp395 juta per orang untuk penanaman koklea di telinga, operasi jantung dan mata.

YN, seorang ibu yang memiliki anak penderita CRS mengungkapkan biaya yang dikeluarkan untuk perawatan anak hingga usia 8 tahun mencapai Rp 619 juta, termausk biaya implant koklear Rp370 juta, operasi katarak Rp22 juta dan terapi bicara Rp74 juta. Sama halnya dengan GM, ibu penderita CRS lainnya mengaku mengeluarkan biaya untuk pengobatan anaknya mencapai Rp327 juta untuk pemasangan alat bantu dengar, biaya cek kesehatan Rp34 juta dan biaya rehabilitasi Rp 2,6 juta per bulan.

WHO, berdasarkan data yang disajikan Gap Foundation, imunisasi menjadi faktor utama pencegah kematian anak. Hal itu berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan ekonomi negara menjadi lebih maju.

Data WHO menyebutkan setiap 1 dolar AS yang digunakan dalam investasi imunisasi, dapat menghemat 16 dolar AS tabungan kesehatan dan akhirnya meningkatkan produktivitas ekonomi seseorang.

Mengutip laman WHO, berdasarkan data yang disajikan Gap Foundation, imunisasi hingga kini masih menjadi faktor utama pencegah kematian anak. Hal itu berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan ekonomi negara menjadi lebih maju.

Indonesia menjadi salah satu contoh. Melalui program imunisasi, jumlah pengidap polio bisa ditekan sampai 1 persen dibanding sebelum imunisasi dilakukan.

“Apapun yang Anda baca atau dengar, vaksin akan memicu respons imunitas tubuh terhadap suatu penyakit berbahaya, tanpa risiko kematian atau cacat yang mungkin akan disebabkan penyakit itu,” tulis Flavia Bustreo, asisten Dirjen Keluarga, Wanita, dan Anak-anak WHO, dalam tulisannya di laman WHO.

Sampai saat ini, Indonesia telah memiliki vaksin BCG, DPT, Hepatitis B, Campak dan Polio. Imunisasi vaksin-vaksin tersebut pun terus dilakukan secara rutin. Harapannya, angka cakupan imunisasi untuk berbagai jenis imunisasi bisa terus meningkat. Karena angka cakupan ini penting untuk membentuk kekebalan individu dan kelompok.

“Kita tahu bahwa campak muncul kembali pada 2017 dan awal 2018 ini, salah satunya akibat masih adanya kantong-kantong daerah yang berpotensi terhadap kejadian luar biasa MR. Cakupan nasional tinggi tetapi tidak merata,” jelas Menkes.


Vaksin vs Antivaksin

Meski imunisasi penting untuk melindungi anak dari penyakit menular, Menkes Nila F Moeloek mengakui bahwa hingga saat ini ada kelompok masyarakat yang menolak imunisasi dengan berbagai macam alasan mulai dari yang bersifat religius hingga konspiratif. Salah satunya adalah mitos bahwa imunisasi akan melemahkan sistem kekebalan alami anak. Dengan demikian maka imunisasi hanya akan membuat anak mudah sakit.

“Mitos tersebut tentu saja tidak benar. Imunisasi justeru akan memberikan imun tambahan bagi anak-anak,” tutur Menkes.

Penolakan imunisasi tersebut terus meningkat seiring munculnya berita-berita hoaks di media sosial. Berita hoaks tersebut seringkali mencantumkan sumber kompeten seperti WHO, MUI, Kemenkes, atau asosiasi profesi. Seolah-olah berita tersebut memag benar dan akurat.

Tetapi pada pelaksanaan Outbreak Responsibility Imunization (ORI) Measles Rubella (MR) tahun ini, Kemenkes dihadapkan oleh fakta bahwa vaksin MR yang merupakan produk dari Serum Institute of India (SII) belum memperoleh sertifikat halal MUI. Alasannya dalam proses pembuatannya masih menggunakan zat yang mengandung unsur babi. Meski pada hasil akhirnya tidak ditemukan DNA babi atau sejenisnya.

“Vaksinnya tidak mengandung babi. Hanya dalam prosesnya memang kami menemukan zat yang tidak halal,” kata Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Asrorun Niam.

Sambil menunggu proses sertifikasi halal, MUI akhirnya mengeluarkan fatwa mubah untuk vaksin MR. Keputusan ini didasarkan pada tiga hal yakni kondisi darurat syar’iyyah, keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya yang menyatakan bahwa terdapat bahaya yang bisa ditimbulkan bila tidak diimunisasi, dan belum ditemukan adanya vaksin MR yang halal dan suci hingga saat ini.

“Kami mendorong Kemenkes dan pihak berkompeten lainnya untuk membuat vaksin dengan bahan dasar atau bahan baku bersumber tumbuhan halal,” tandas Asrorun.

 
Edward Jenner, penemu vaksin (istimewa/kumparan)

Sejarah imunisasi

Vaksin bukanlah hal baru dalam dunia kesehatan.  WHO seperti dikutip dari laman wikipedia mencatat beberapa jenis vaksin telah digunakan manusia ratusan tahun lalu. Vaksin cacar mulai digunakan manusia pada tahun 1798, vaksin rabies pada tahun 1885,  vaksin pes pada tahun  1897, vaksin difteri pada tahun 1923, vaksin pertusis tahun 1926, vaksin tuberculosis tahun 1927, vaksin tetanus pada tahun 1927 dan vaksin yelow fever tahun 1935.

Pengembangan vaksin terus mengalami percepatan. Setelah Perang Dunia II, manusia mulai mengaplikasikan vaksin polio suntik pada 1955, polio oral pada 1962, vaksin campak pada 1964, vaksin mumps tahun 1967, vaksin rubella pada 1970 dan vaksin hepatitis B pada 1981.

Laman tirto.id pada pertengahan Juni 2017 menuliskan sepanjang abad 20, penyakit cacar telah membunuh 300 juta hingga 500 juta orang di dunia. Tetapi melalui kampanye masif dan imunisasi cacar yang dilakukan hampir semua negara, penyakit tersebut bisa dieliminasi pada tahun 1980.

Selain itu, sejak tahun 1988, kasus penyakit polio telah menurun lebih dari 99 persen di seluruh dunia, setelah dilakukan imunisasi cacar. Hanya Afganistan, Nigeria dan Pakistan yang terus berjuang melawan penyakit menular yang dapat menyebabkan atrofi dan kelainan otot tersebut.

Sedang di Indonesia, data Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyebutkan Indonesia mulai mengenal imunisasi sejak tahun 1950-an. Kumparan.com dalam laporannya menuliskan imunisasi pertama yang dilakukan Indonesia adalah imunisasi untuk penyakit cacar.

Imunisasi yang dilakukan di Pulau Jawa tersebut mampu mengendalikan kasus cacar. Meski pada 1967 terjadi kejadian luar biasa (KLB) cacar di Jawa Timur akibat imunisasi yang belum bersifat massal. Dan  wabah cacar kembali muncul pada 14 Desember 1971 di Sepatan, Tangerang yang menyerang 3 desa. Setelah dilakukan imunisasi cacar secara massal, WHO pada pada 25 April 1974 menyatakan Indonesia bebas cacar sepenuhnya.

Masih mengutip data dari laman Kumparan, Indonesia juga menghadapi kasus difteri yang sangat tinggi. Kurun l990 hingga 2000 tercatat ada 9.482 kasus difteri yang dilaporkan. Data tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara kedua tertinggi difteri di dunia setelah India dengan 53.503 kasus.

Melalui imunisasi DPT yang rutin diberikan untuk anak usia kelas 1 SD, kasus difteri mulai menurun. Rentang waktu 2011-2015 tercatat 3.203 kasus di Indonesia, dari 26.363 kasus yang tercatat di seluruh dunia. Merujuk data Kemenkes cakupan imunisasi DPT pada periode 2007-2015 mencapai 90 persen hingga 100 persen.

Penyakit lain yang angkanya sudah jauh tertekan di Indonesia adalah polio. Pada 1984, ada lebih dari 800 kasus polio yang tercatat. Setelah pengawasan dan imunisasi yang gencar selama 10 tahun, pada 1994 tingga menyisakan 24 kasus.

Imunisasi polio secara massal di Indonesia pertama kali dilakukan pada 1995, dan sejak saat itu pula, Indonesia dinyatakan bebas polio. Kasus terakhir polio di Indonesia ditemukan di Probolinggo, Jawa Tengah pada 23 Juni 1995 dengan satu kasus.




0 Komentar