Menkes Nila F. Moeloek berfoto bersama anak-anak pada puncak peringatan Hari Anak Nasional (Ist/Sehatnegeriku)

APA jadinya kalau sekolah tidak mengeluarkan buku rapor untuk siswanya. Bisakah orangtua memantau pencapaian akademik anaknya?
 
Tentu sulit. Karena rapor menjadi buku laporan yang memuat nilai-nilai mata pelajaran sebagai simbol pencapaian prestasi akademik siswa. Selain itu ada juga catatan terkait hal-hal diluar kegiatan akademik seperti perilaku siswa selama di sekolah.

Seperti halnya buku rapor, Kartu Menuju Sehat (KMS) juga menjadi buku yang tak kalah pentingnya dimiliki oleh setiap anak balita. Buku KMS menjadi buku yang mencatat pertumbuhan dan perkembangan setiap anak sejak usia 0 hingga 24 bulan secara akurat. Baik riwayat kelahiran, potensi genetik yang dimiliki anak, riwayat pemberian ASI, hingga catatan imunisasi secara lengkap.

Buku KMS disusun berdasarkan kurva pertumbuhan standar anak yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2006. Untuk Indonesia, kurva yang digunakan adalah Weight for Age Z-score (WAZ) yang mengukur pertumbuhan anak usia 0-24 bulan.

Mengapa buku KMS penting dimiliki setiap anak balita? Sebab banyak  orang tua yang tidak menyadari terjadinya perlambatan pertumbuhan pada anaknya. Mereka baru sadar ketika anak tidak tumbuh seperti anak seusianya, bertubuh pendek atau gangguan gizi lainnya disertai gangguan fisik seperti batuk, diare dan demam. 

Dengan buku KMS ini, setiap perkembangan anak bisa terpantau dengan baik. Petugas posyandu, atau petugas kesehatan akan melakukan pengukuran anthropometri panjang atau tinggi badan secara akurat, kemudian dicocokkan dengan grafik standar tinggi badan sesuai umum yang terdapat pada KMS. Dengan cara demikian maka setiap perlambatan pertumbuhan anak bisa terpantau sejak dini sehingga bisa segera ditindaklanjuti. 

Sejatinya, dengan indikator pengukuran yang sedemikian lengkap pada KMS, kasus gizi buruk kronis seperti stunting atau gagal tubuh pada balita bisa dihindari. Tetapi faktanya meski buku KMS ini sudah dibagikan kepada anak-anak yang baru lahir, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan 37,2 persen atau sekitar 9 juta anak Indonesia mengalami stunting. Artinya satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting.

Ilustrasi (Ist/Sehatnegeriku)

Pemicu stunting

Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). 

Penyebab stunting multikompleks. Seperti rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani.

Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia (SELASI) dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC menyebutkan ada tiga faktor penyebab utama stunting. Pertama kesehatan dan gizi ibu yang kurang terjamin. Ibu stunting cenderung melahirkan anak dengan berat bayi lahir rendah (BBLR).

“Pada ibu stunting, memiliki risiko melahirkan anak BBLR antara 4 hingga 5 kali lipat. Itu berarti terjadi lingkaran malnutrisi,” jelas Wiyarni.

Pun jarak persalinan yang terlalu rapat dan melahirkan pada usia remaja memiliki kemungkinan lebih besar membuat anak mengalami gagal tumbuh.

Faktor kedua adalah praktik pemberian makan bayi dan anak yang tidak adekuat. Misalnya tidak dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD),  anak tidak mendapatkan ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI yang tidak memenuhi kuantitas, kualitas dan variasi.

Faktor ketiga adalah infeksi pada 1000 HPK. Hal-hal yang bisa memicu timbulnya infeksi pada bayi misalnya, pola asuh yang tidak tepat, lingkungan dan higienitas yang buruk, kemiskinan, tidak mendapatkan imunisasi lengkap, dan minimnya layanan kesehatan.

Stunting, lanjut Wiyarni, sejatinya bukan hanya masalah kegagalan mencapai tinggi badan sesuai potensi genetiknya. Stunting juga menyangkut defisit kognitif yang mengakibatkan anak tidak bisa mencapai prestasi akademik yang optimal.

Stunting berkaitan dengan kehilangan peluang kerja yang lebih baik. Itu artinya peluang untuk memperbaiki status sosial ekonomi menjadi lebih kecil. Stunting bahkan meningkatkan risiko penyakit degeneratif pada anak saat anak mencapai usia remaja atau dewasa.

Penelitian Ricardo dalam Bhutta tahun 2013 menyebutkan balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15 persen) kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup sehat setiap tahun.

Illustrasi (Ist/Sehatnegeriku)

Pentingnya 1000 HKP 

Masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan masa yang sangat penting bagi tumbuh kembang seorang anak. Karena itu intervensi pada 1000 HKP anak sangat penting dan strategis.

Salah satu bentuk intervensi pada 1000 HPK kata Ir. Doddy Izwardi MA, Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes adalah pemberian ASI yang optimal pada bayi. Rangkaiannya terdiri atas inisiasi menyusui dini (IMD) yang dilakukan segera setelah bayi lahir, ASI eksklusif selama 6 bulan, dan melanjutkan menyusui sampai anak usia 2 tahun atau lebih sambil disertai pemberian MPASI yang adekuat.

“ASI adalah sumber nutrisi otak yang terbukti mengandung laktosa, AA-DHA, zat besi, zinc, selenium, yodium, yang menjadi bahan baku sel saraf otak,” kata Doddy. 

Pada bulan-bulan pertama, ASI akan mengeluarkan kolostrum, zat penting untuk meningkatkan imunitas bayi. Lalu pada kurun 3-4 bulan, ASI memberikan kalori yang cukup untuk kebutuhan perkembangan motorik anak.

Pada kurun 4-6 bulan, ASI akan mencapai puncak kadar antibodi yang penting untuk menurunkan prevensi dan risiko alergi. Kurun bulan ke-6, ASI mengandung asam omega yang melimpah untuk perkembangan sel otak.

“Dan pada kurun 9 hingga 12 bulan selanjutnya, asam amino yang terkandung dalam ASI akan menjamin kebutuhan protein untuk pertumbuhan otot dan optimalisasi IQ anak,” jelas Doddy
 
Sebuah studi menyebutkan Kenya berhasil menurunkan angka kematian bayi dan prevalensi stunting hingga 40 persen setelah berhasil meningkatkan angka cakupan ASI eksklusif hingga 50 persen pada kurun lima tahun terakhir ini.

Selain intervensi ASI, pola asuh gizi yakni cara pemberian makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak juga sangat penting.

“Malnutrisi  berat dan berkepanjangan pada anak, dapat memberi pengaruh negatif pada pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara kemampuan fisik maupun kemampuan kognitif,” tukas Doddy
.
Hasil Riskesdas 2013 menyebutkan kondisi konsumsi makanan ibu hamil dan balita tahun 2016-2017 menunjukkan di Indonesia 1 dari 5 ibu hamil kurang gizi, 7 dari 10 ibu hamil kurang kalori dan protein, 7 dari 10 Balita kurang kalori, serta 5 dari 10 balita kurang protein.

Masa kejar tumbuh

Meski 1000 HPK sangat penting dalam mencegah stunting, tetapi bukan berarti anak yang terdeteksi stunting setelah 1000 HPK tidak memiliki peluang untuk tumbuh sehat. Menurut Ahmad Syafiq, Peneliti pada Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, jika 1000 HPK sudah lewat, masih ada kesempatan untuk memaksimalkan potensi anak.

“Banyak jurnal yang membahas tentang critical windows untuk pertumbuhan dan perkembangan anak,” jelas Syafiq pada seminar sehari Opportunities Beyond 1000 Days belum lama ini.

Prentice Et.Al (2013), misalnya menyatakan bahwa waktu proliferasi (pertumbuhan dan pertambahan) sel dari sistim organ tubuh sepanjang rentang kehidupan tidak tertutup setelah usia 24 bulan. Berbagai sumber di negara berkembang menunjukkan, kejar tumbuh terjadi setelah usia 24 bulan bahkan tanpa intervensi apapun.

Sebuah data di Gambia menunjukkan, perpanjangan masa kejar tumbuh yang signifikan pada masa remaja dan dewasa muda. Analisis lebih lanjut terhadap data di Afrika menunjukkan, 2/3 dari sampel mengalami kejar tumbuh antara usia 24 bulan-48 bulan, meski tidak besar. 

“Jadi, intervensi gizi, jika hanya dilakukan pada 1000 HPK saja masih kurang efektif, “ terang Syafiq.

Selain itu, lanjut Syafiq, fase pertumbuhan setiap anak juga berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan, harus dilihat masing-masing. Menurut Kalberg (1989), regulator hormon pertumbuhan di setiap fase berbeda, sehingga intervensi gizinya bisa berbeda dan juga pola pertumbuhannya.

Tentunya untuk memanfaatkan critical windows ini, perlu perhatian dari semua pihak. Keluarga sebagai pengasuh utama anak, juga lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak. Akses pangan, akses layanan kesehatan, sanitasi lingkungan dan sebagainya yang memungkinkan anak bisa mengejar ketertinggalannya dengan intervensi gizi lanjutan.


Buku "Kartu Menuju Sehat"

Penanganan stunting

Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus stunting tinggi di kawasan Asia Tenggara, mencapai 9 juta anak pada 2013. Hanya Laos, Kamboja, dan Timor Leste yang memiliki angka stunting lebih tinggi dari Indonesia.

Berdasarkan hasil Riskesdas 2013, ada lima provinsi dengan angka stunting tertinggi yakni Nusa Tenggara Timur (51,73 persen), Sulawesi Barat (48 persen), Nusa Tenggara Barat (45,26 persen), Kalimantan Selatan (44,24 persen), dan Lampung (42,63 persen).

Dari 34 propinsi, hanya ada dua propinsi yang memiliki angka stunting kurang dari 20 persen sebagaimana ditetapkan WHO.

Untuk menangani stunting, menurut Fasli Jalal, Guru Besar Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta, diperlukan kontribusi gizi yang harus dilakukan dengan serius. Kontribusi gizi itu ada dua, yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

Intervensi gizi spesifik adalah upaya-upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan. Misalnya melalui imunisasi, pemberian makanan tambahan ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu.

Sasarannya secara khusus kelompok 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) baik pada ibu Hamil, ibu Menyusui, dan anak  usia 0-23 bulan,” jelas Fasli yang juga mantan Kepala BKKBN pada satu seminar tentang stunting yang digelar IMA World Health.

Intervensi gizi sensitive adalah upaya-upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung. Berbagai kegiatan pembangunan pada umumnya non-kesehatan, yang secara tidak langsung dapat menunjung kesehatan masyarakat. Kegiatannya antara lain penyediaan air bersih, kegiatan penanggulangan kemiskinan, dan kesetaraan gender. Sasarannya masyarakat umum, tidak khusus untuk 1000 HPK.

“Sayangnya, selama ini kita salah memahami. Kita bersusah payah di intervensi gizi spesifik, padahal ini hanya berkontribuksi gizi sebesar 30 persen. Yang 70 persen, intervensi gizi sensitif sepertinya kita lupa,” ujarnya.

Menkes berfoto bersama para pemenang Lomba ASI Eksklusif 2018

Upaya mengatasi stunting

Menkes Nila F Moeloek mengatakan pemerintah berkomitmen untuk menurunkan angka stunting ini melalui berbagai upaya. Diantaranya bergabung dalam Scaling Up Nutrition (SUN) Movement serta menerbitkan Peraturan Presiden No. 42 tahun 2013 perihal Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi.

Dalam semangat kerja percepatan itu, Pemerintah Indonesia melalui Kemenkes juga telah mencanangkan beragam upaya, di antaranya Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM) untuk Cegah Stunting.

Semua upaya itu dilaksanakan melalui pendekatan kerja dengan berbagai pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat, multitingkat baik nasional, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa dan rumah tangga serta multisektor.

“Pemenuhan gizi pada anak di 1000 HPK menjadi sangat penting, sebab jika tidak dipenuhi asupan nutrisinya, maka dampaknya pada perkembangan anak akan bersifat permanen. Perubahan permanen inilah yang menimbulkan masalah jangka panjang seperti stunting,” jelas Menkes.

Diakui Menkes berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi stunting dalam 3 tahun terakhir ini (2014-2016) telah membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Dalam rapat gabungan di kantor Wapres Jusuf Kalla pada 12 Juli lalu, Menkes melaporkan bahwa tingkat persentase anak yang mengalami gizi buruk kronis atau stunting di Indonesia telah turun dari 37,2 persen menjadi 27,5 persen.

 “Kami melakukan pemantauan status gizi saat ini dalam kurun tiga tahun terakhir memang turun dari 37,2 persen, sekarang menjadi 27,5 persen. Namun angka UNICEF memang masih menunjukkan angka 29,6 persen, tetapi ada penurunan,” kata Menkes seperti dipublikasikan laman menara62.com.

Menkes juga telah memberikan pemaparan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla selaku ketua TNP2K, bahwa meskipun tingkat anak yang mengalami gizi buruk kronis atau stunting menurun, namun penyebarannya masih luas dan dialami lintas kelompok pendapatan.

“Saya kira kalau kita lihat nanti ke daerah-daerah kabupaten atau kota, memang ada daerah yang sudah cukup baik, tetapi masih ada yang disparitas. Ini terjadi di daerah-daerah tertentu. Nah kalau kita kaji ini tidak hanya bisa dengan memberikan makanan,” lanjutnya.

Menkes mengakui bahwa wilayah timur Indonesia masih menjadi wilayah dengan tingkat stunting tinggi, meskipun tingkat disparitasnya juga tinggi.

Oleh karena itu, Menkes mengusulkan agar faktor eksternal yang mendukung perbaikan gizi melalui gaya hidup sehat juga harus didorong, terutama melalui pembangunan sanitasi dan penyediaan air bersih.

“Kami butuh sanitasi, air bersih, bahwa kalau tidak ada air bersih, dia juga tidak pernah cuci tangan, ya, cacing jadi ikut masuklah. Jadi selama faktor eksternal tidak mendukung, maka upaya menurunkan stunting tidak akan optimal,” tutup Menkes.

2 Komentar

  1. Penting banget dech masalah gizi ini diperhatiin sm ortu, biar anak2nya bisa tumbuh sehat, dan punya postur tubuh yg ideal

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap betul...makasih yaaa sudah mampir...

      Hapus