(Para penerima penghargaan Pancawara)

OKTOBER akhir, Jakarta sudah mulai diwarnai dengan hujan. Hampir tiap hari, meski kadang deres, kadang sekedar rintik-rintik.

Ini bakal berlangsung sampai Februari atau Maret tahun depan ya. Makanya selain sedia payung, jangan lupa jaga kesehatan.

Nah buat kalian yang mau sehat baik badan maupun kantong, musim hujan adalah saat yang paling tepat buat nengok pasar tradisional. Niatnya nengok, tapi kalau kemudian tergoda untuk blanjablinji, itu jelas efek yang menyenangkan.

Jangan membayangkan ya, pasar tradisional itu kumuh dan becek. Sepertinya bayangan yang begitu harus dibuang jauh-jauh. Sekarang pasar tradisional tampil keren lho. Bangunannya bagus, bersih, kiosnya tertata, juga lebih aman. Ada juga fasilitas perbankan dan lainnya.

Itu mengapa saya mengajak nengok pasar tradisional pas musim hujan. Apalagi pas turun hujan. Supaya bisa membuktikan kalau pasar tradisional yang bocor dan becek itu sudah bukan jamannya lagi. Pasar tradisional jaman now penampilannya sudah berbeda.

Itu kenapa juga saya ngajak ke pasar tradisional supaya sehat badan dan kantong. Berkunjung ke pasar tradisional menjadi peluang buat kita jalan dari satu kios ke kios lain, mendatangi satu pedagang ke pedagang lain. Nah, aktivitas jalan itu pasti dong bikin sehat badan.

Sudah gitu, harga barang-barang di pasar tradisional jauh lebih murah dibanding di pasar modern atau supermarket. Buah mangga gedong misalnya, kalau di pasar modern sekilo bisa 35 ribu rupiah atau lebih. Di pasar tradisional dengan kualitas sama kita bisa membayar dengan cuma Rp 25 ribu atau bahkan kurang.

Sayuran macam wortel, sawi, kacang panjang, buncis, kangkung. Wow selain segar-segar, harganya juga jauh lebih murah. Pilihan jenis sayurannya lengkap. Mau sayur model apa juga ada, sayur lodeh, asem, sop atau yang lainnya. Mau jenis sayuran yang sudah langka seperti kecombrang, pare belut atau jantung pisang dan rebung ada juga lho.

Aneka daging dan ikan, produk olahan dan kebutuhan pokok macam beras, tepung terigu dan gula serta minyak. Tinggal muter pasar, semua jenis belanjaan ada.

Jajanan camilan pun demikian. Uli ketan, getuk sampai makanan rutiruti alias roti dan berger, sekarang di pasar tradisional banyak dijual.

Buah-buahan, saat musim baru nongol, di pasar tradisional suka sudah ada. Kayaknya memang asyik deh.

Kalau semua barang dagangan serba murah, pasti dong ini bikin sehat kantong. Hemat belanja, hingga akhir bulan masih punya sisa untuk ditabung. Alhamdulillah.


(Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli, Restu Pratiwi saat menyerahkan penghargaan Pancawara)

Kemarinan hari saya datang ke acara Forum Pembelajaran Inovasi Pasar Rakyat dan Anugerah Pancawara 2017 yang digelar Kementerian Perdagangan kerjasama dengan Yayasan Danamon Peduli. Pada ajang tersebut hadir pengelola beberapa pasar tradisional dari sejumlah daerah. Mereka diundang untuk mendapatkan apresiasi atas inovasi pengelolaan pasar tradisional.

Mengikuti acara mereka, dan juga sempat ngobrol beberapa kalimat dengan para pengelola pasar tradisional, emang cakep sih. Mereka sadar bahwa pasar tradisional memang harus tampil modern. Tujuannya supaya tetap ramai dikunjungi pembeli, supaya dagangan laris, dan perputaran uang pun lancar.

Intinya, mereka nggak mau kalah dan menyerah dengan menjamurnya ritel yang saat ini sudah merangsek hingga ke kampung-kampung dan gang.

Pasar tradisional adalah bagian dari budaya Indonesia. Di pasar tradisional orang tak sekedar bertransaksi untuk kebutuhan hidupnya, tetapi juga saling interaksi. Karena itu wajib hukumnya untuk terus dihidupkan dan dipertahankan.

Tahun ini, dari ribuan atau bahkan ratusan ribu pasar tradisional, hanya ada 13 pasar tradisional yang menjadi finalis Anugerah Pancawara 2017. Yaitu Pasar Atjeh Kota Banda Aceh, Pasar Flamboyan Kota Pontianak, Pasar Rejowinangun Kabupaten Magelang, Pasar Kliwon Kabupaten Kudus, Pasar Tayu Kabupaten Pati, Pasar Tanggul Kota Surakarta, Pasar Sindu Kota Denpasar, Pasar Intaran Kota Denpasar, Pasar Jamu Nguter Kabupaten Sukoharjo, Pasar Baru Kuningan Kabupaten Kuningan, Pasar Mayestik, PD Pasar Jaya Jakarta, Pasar Koja Baru PD pasar Jaya Jakarta dan pasar Modern Jasinga PD Pasar Tohaga Kabupaten Bogor.

Setelah melalui penjurian, Pasar Rejowinangun dengan inovasi Pengembangan Pasar Rakyat sebagai Ruang Sosial Budaya tampil menjadi juara untuk kategori Pasar Rakyat Pemerintah Daerah Tipe I dan II. Lalu Pasar Sindhur Sanur dengan inovasi Swakelola dan Pengembangan Wisata Kuliner Malam menjadi juara untuk kategori Pasar Rakyat Pemerintah Daerah Tipe III dan IV.

Kemudian untuk kategori Pasar Rakyat Perusahaan Daerah diraih oleh Pasar Koja Baru, PD Pasar Jaya dengan inovasi Pengelolaan Sarana-Prasarana Pasar secara Sinergis.

Dari tiga pasar yang meraih penghargaan tersebut, saya pernah mampir ke Pasar Koja di Jakarta Utara. Waktu itu mau beli baju rumah untuk asisten rumah tangga.

Memasuki pasar, rasanya makjleb. Ajaib nian. Itu pasar Koja sekarang penampilannya keren abis. Nggak seperti 10 tahun lalu. Segala fasilitas yang dibutuhkan konsumen dan pedagang sudah ada. Sudah gitu harganya nggak sampai menguras isi kantong.

Keliling-keliling, selain banyak petugas keamanan yang bikin kita anyem saat belanja, juga ada fasilitas perbankan. Ada fasilitas parkir yang memadai, bongkar muat sama lalu lintas konsumen nggak nyampur alias terpisah, tertata apik.

Semoga ke depan, di Jakarta tidak hanya Pasar Koja yang menang anugerah Pancawara ya. Sebab pasar-pasar lain juga terus bebenah kok.

Terkait kegiatan forum Pembelajaran Inovasi Pasar Rakyat dan Anugerah Pancawara 2017, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti mengatakan pihaknya mendukung penuh kegiatan yang digelar Yayasan Danamon Peduli tersebut.

Ajang ini diharapkan dapat memicu peningkatan daya saing pasar rakyat, meningkatkan kesejahteraan pedagang dan daerah, mendukung kelancaran logistik dan distribusi barang kebutuhan pokok masyarakat.

Tjahya juga menyampaikan bahwa bahwa inovasi dan kreativitas sangat diperlukan untuk memajukan pasar rakyat. “Tantangan yang dihadapi saat ini membutuhkan semangat inovasi dan terobosan kreatif dalam pengelolaan pasar rakyat agar terjadi penguatan pasar dalam negeri di era persaingan global yang makin terbuka,” papar Tjahya.

Senada juga dikatakan Ketua Umum Yayasan Danamon Peduli, Restu Pratiwi. Ia mengatakan Danamon Peduli menyadari pentingnya keberadaan pasar rakyat sebagai rumah ekonomi, sosial dan budaya bangsa.

“Kami menangkap semangat pengelola pasar yang secara konsisten melakukan terobosan dan inovasi pengelolaan pasar rakyat untuk berlomba-lomba menjawab kebutuhan dan memenangkan hai konsumen ditengah ketatnya persaingan dengan ritel modern,” katanya.

Forum Pembelajaran Inovasi Pasar Rakyat diakui Restu baru pertamakali digelar. Diikuti 46 pasar rakyat yang terdiri atas 40 pasar rakyat milik Pemerintah Daerah dan 6 pasar rakyat Perusahaan Daerah (PD)/Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Diharapkan dari forum ini terjadi komunikasi, pembelajaran dan sharing pengalaman dari berbagai pihak dalam upaya mengembangkan pasar rakyat yang lebih baik dan profesional dalam melakukan kegiatan transaksi perdagangan serta pelayanan kepada konsumen.

Kemitraan Danamon Peduli dengan Kementerian Perdagangan diakui Restu sudah terjalin sejak 2010 melalui program pendampingan revitalisasi pasar rakyat, yaitu Pasar Sejahtera (Sehat, Hijau, Bersih dan Terawat) dibeberapa kabupaten dan kota di Indonesia. Program ini diperuntukkan sebagai pasar percontohan yang mengacu pada Pasar Sehat Kementerian Kesehatan RI dan standar SNI 8152:2015 Pasar Rakyat.

Pasar Sejahtera tidak hanya menyasar pada perbaikan fisik namun juga pada pengelolaan pasar melalui peningkatan kapasitas pedagang, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang memiliki tupoksi di pasar, serta pemberdayaan komunitas pasar. Ke depan diharapkan Yayasan Danamon Peduli dapat melaksanakan programnya ke pasar-pasar yang dibangun/direvitalisasi oleh Kementerian Perdagangan.

“Kita ingin pemerintah daerah dan swasta lainnya dapat mereplikasi atau menjadikan program Pasar Sejahtera sebagai rujukan untuk pembangunan dan pengelolaan pasar rakyat di Indonesia,” tutup Restu.

#salampasartradisional

0 Komentar