(Lobby LTC Glodok)
KEPONAKAN tercinta Sonny, selalu nyebut Glodok kalau dimintai tolong mereparasi laptop, minibook atau PC. Dari sejak jaman dia kuliah 3 tahun lalu sampai sekarang sudah kerja.

Glodok sepertinya sudah jadi tempat favorit dia buat belanja segala jenis sparepart barang elektronik. Katanya, mau cari yang merek bagus sampai harga merakyat ada semua di Glodok. Mau cari barang yang langka, yang sudah sulit ditemukan di pasar, atau model terbaru. Semua bisa dijumpai di Glodok.

Well, saya percaya. Karena memang dia ahlinya untuk reparasi barang elektronik macam laptop, PC dan notebook. Katanya lagi, saking seringnya belanja di Glodok, sampai punya toko langganan yang siap ditelepon setiap saat untuk menanyakan ketersediaan barang termasuk harganya.

Tapi kalau hari kemarin saya minta tolong cariin lampu senter yang dipasang di kepala buat urusan Pramuka anak, mengapa pula harus ke Glodok? 

Penasaran, saya pun pergi ke Glodok, sendirian saja. Naik bus TransJakarta, turun di halte Glodok. Di kanan kiri Halte Glodok, ada banyak pilihan pusat perbelanjaan, mulai dari Harco Glodok, PD Pasar Jaya sampai Lindeteves Trade Center alias LTC Glodok.

Keluar dari Halte TransJakarta Glodok, saya memilih jalan sedikit ke arah depan dari Halte Glodok, tepatnya menuju LTC Glodok. Selain tampilannya mirip hotel, karena ada lobinya, LTC Glodok juga terlihat paling ramai pengunjung. Warna dinding bangunannya yang cerah terus terang menjadi salah satu alasan saya memutuskan pergi ke LTC Glodok.

Biasanya nih, kalau ramai pengunjung pasti ada nilai lebihnya. Bisa jadi barang dagangan lebih lengkap, bisa jadi lebih nyaman, bisa jadi harganya murah atau alasan lainnya.

Di lobi lantai LG1, saya berpapasan dengan Supriyono, warga Grogol. Ia lagi asyik telpon-telponan dengan seseorang yang saya tebak itu konsumennya. Dan benar, setelah basa basi menyapa, saya pun mengajaknya bercerita.

 (Supriyono, konsumen setia LTC Glodok)

Supriyono ini ternyata seorang pemasok barang di kawasan Grogol. Dia sudah sekitar 5 tahunan menjadi langganan di LTC Glodok. Segala jenis mesin, perkakas tools, produk listrik hampir setiap hari dibeli disini untuk kemudian dijual kembali ke para pemesannya.

“Saya hampir tiap hari ke sini, cari barang sesuai pesanan langganan. Kadang mesin air,  kadang kipas angin, kadang peralatan bengkel, pokoknya banyak deh,” katanya.

Dalam satu hari, nilai belanjaan Supriyono ini tergolong fantastis mencapai rata-rata Rp 50 juta. Itu sebabnya dia mengaku belum lama ini dapat apresiasi dari pengelola LTC Glodok berupa vocher belanja dan voucher menginap di Fave Hotel yang letaknya di lantai 8 LTC Glodok.

 (Apresiasi untuk pelanggan setia LTC Glodok)

Bagi Supriyono, belanja di LTC Glodok menawarkan keuntungan berlipat. Selain produknya lengkap, kualitasnya terjamin, ia juga bisa mengikuti undian berhadiah Agung Podomoro Vaganza. Hadiahnya bikin ngiler karena ada apartemen dan Toyota Fortuner.

Masuk ke lantai dasar, saya berjumpa dengan Januar. Tokonya menyediakan pernak-pernik mesin. Bersama sejumlah karyawannya, Januar nampak sibuk melayani konsumen baik yang datang ke toko maupun pesan lewat sambungan telepon atau email.

(Januar, pedagang perkakas)

“Saya terapkan dua strategi pemasaran, offline dan online. Dua-duanya ada pangsa pasarnya,” kata Januar.

Sejak LTC Glodok dibuka, Januar sudah bergabung. Rasa optimis bahwa ikon Glodok akan membawa keuntungan, ternyata bukan mimpi. 

“Dalam sehari omset saya untuk yang offline rata-rata Rp 100 juta dan online bisa Rp 30 juta,” jelasnya.

Januar terang-terangan memuji strategi pemasaran yang dilakukan pengelola LTC Glodok dibawah bendera Agung Podomoro. Strategi promosi yang dilakukan membuat LTC Glodok selalu ramai. 

“Jika banyak pusat perbelanjaan lain yang sepi, maka kami tidak mengalami kondisi seperti itu. Toko kami selalu ramai, setiap hari, karena strategi marketingnya dari pengelola memang bagus,” tutur Januar.

Pujian serupa dilontarkan Gunawan, pemilik Toko PD Sahabat. Dalam sebulan, omset dari jualan alat-alat sensor tidak kurang dari Rp 1 miliar. Semua dijual secara offline karena memang PD Sahabat belum pakai strategi online.

“Melayani yang datang ke toko langsung, tapi ke depan kita lagi mikir juga pakai online. Lagi penjajakan,” katanya.

(Gunawan, pedagang alat sensor)

Gunawan mengaku sangat terbantu dengan strategi pemasaran yang dilakukan oleh pengelola LTC Glodok. Sehingga ketika ekonomi global memburuk yang imbasnya daya beli masyarakat menurun,  LTC Glodok nyaris tak terpengaruh.

“Paling stagnan saja, menurun sih nggak ya. Datar iya, tapi itu bagus dibanding pusat perbelanjaan lainnya yang katanya sepi,” tambah Gunawan.

Mengutip tulisan yang dilansir Harian Pos Kota, Glodok sejak zaman kolonial hingga saat ini masih menjadi ikon belanja elektronik dan perkakas mesin terbesar dan terpopuler di Kota Jakarta.

Karena itu ketika tahun 2005 PT Agung Podomoro menawarkan Lendeteves Trade Canter di kawasan Glodok, 3000 kios yang ditawarkan langsung habis terjual. 

“Siapapun optimis, bahwa nama besar Glodok akan membawa keuntungan besar bagi usaha dagangnya. Terlebih lagi dibawah bendera Agung Podomoro yang memang dikenal sebagai pengembang mumpuni berbagai pusat perbelanjaan diberbagai wilayah di Indonesia,” kata Alex Suharli,  Pengawas Persatuan Penghuni dan Pemilik Rumah Susun (P3RS) LTC Glodok.

Menawarkan konsep belanja yang nyaman dan aman, LTC Glodok yang berada dikawasan strategis Jalan Hayam Wuruk nomor 127 Jakarta Barat, memiliki accupation alias tingkat hunian hingga 100 persen. Enam lantai terdiri atas 3000 kios, semua beroperasi.

Diakui Alex, LTC Glodok dalam sehari rata-rata dikunjungi oleh lebih dari 50 ribu konsumen, tidak hanya dari Jakarta tetapi juga kota-kota lain di sekitar Jakarta. Dengan jumlah mobil parkir mencapai 7.000 unit dan motor 8.000 unit per harinya.

(LTC Glodok yang tak pernah sepi)

“Saat ini LTC Glodok merupakan salah satu tools market terbesar dan terlengkap di Indonesia, dibawah payung PT Agung Podomoro Land. LTC Glodok adalah Trade Center yang bergerak di bidang penjualan alat – alat teknik, tools, listrik, elektronik, safety, plat, dan lain sebagai yang bisa jadi pilihan utama masyarakat,” papar Alex. 

LTC Glodok itu sendiri menurut data, mulai beroperasi pada bulan Februari 2006 dengan luas lahan 2.6 H yang terdiri dari 6 lantai belum termasuk hotel, restaurant, karaoke, ballroom dan lainnya.

Nilai transaksi yang terjadi setiap tahunnya di LTC mencapai triliunan rupiah. Itu semua karena LTC Glodok melayani pembelian mulai dari eceran hingga partai besar.

Dilengkapi dengan fasilitas lengkap yang nyaman dan modern, baik untuk pengunjung maupun pedagang seperti, AC, toilet bersih, escalator, lift pengunjung dan barang, mushola, food court, parkir yang luas dan lain sebagainya, pengunjung LTC Glodok mencapai lebih dari ± 50.000 orang perhari.

Konsumen pun tidak perlu kuatir dengan keaslian barang yang dibeli dan tersaji lengkap di LTC Glodok. Tidak heran jika konsumen yang datang di LTC Glodok ini pun tidak terbatas dari Jakarta saja melainkan sudah merambah hampir seluruh Indonesia.

Puas menyambangi beberapa konsumen dan pedagang, saya pun naik ke lantai 8. Ada Fave Hotel yang menyediakan penginapan yang nyaman. Restoran dan cafe dengan aneka menu yang mantap.

Bagi saya, hotel di pusat perbelanjaan menjadi wajib hukumnya. Mengingat konsumen yang datang dari kota-kota jauh, acapkali terkendala dengan urusan penginapan dan transportasi. Kalau penginapannya menyatu dengan pusat perbelanjaan tentu ini akan memudahkan konsumen atau pelanggan.

Saya sempat sholat di mushola yang lokasinya disisi kanan lobi hotel. Mushola kecil yang cukup nyaman untuk mengerjakan ibadah sholat ditengah aktivitas belanja yang bisa jadi cukup melelahkan.

(Berbagai program promosi yang dilakukan pengelola LTC Glodok)

Jika kita masuk ke arena belanja yang baru, alias baru kita injak, hal yang paling ditakutkan adalah tidak bisa mendapatkan pintu keluar yang tepat. Kegiatan keliling belanja membuat kita bingung ke arah mana harus keluar. 

Itu pula yang terjadi dengan saya. Baru datang ke LTC Glodok, langsung terhipnotis dengan kelengkapan dan kenyamanan LTC Glodok, membuat saya bingung arah saat mau keluar dari LTC Glodok.

Untungnya LTC Glodok menyediakan denah sederhana yang tertera di lantai-lantai. Disetiap persimpangan, ada denah yang menunjukkan arah berbagai pintu keluar. Mau melalui pintu Jalan Hayam Wuruk, Jalan Belusdru atau lewat pintu lain.

Denah begini memang terlihat sederhana, sehingga tak banyak pusat perbelanjaan yang menyediakannya. Semua pengunjung dianggap sudah familiar dengan semua sudut. Tetapi terus terang, denah begini amat menolong bagi pengunjung pusat perbelanjaan termasuk saya.

Lelah berkeliling LTC Glodok, pulang membawa satu set obeng dan dua masker. Sekedar buat oleh-oleh suami yang suka teriak-teriak kehilangan peralatan saat mau membetulkan peralatan rumah tangga.

Lalu saya pun memesan ojek online menuju stasiun Sawah Besar dengan tarif normal Cuma Rp 7.000. titik penjemputan di aplikasi ojek online langsung tercetak LTC Glodok. Berarti memang sangat populer sehingga google map telah mengidentifikasinya.

Sepanjang duduk dibangku Commuter Line menuju Kota Depok, saya berpikir dan mulai paham mengapa sang keponakan tercinta Sonny selalu ke Glodok jika ingin membeli segala jenis sparepart mesin, listrik dan lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan sehari-harinya..

Xoxoxoxo

#Salambelanja

0 Komentar