Memasang ring stent atau operasi by pass menjadi terapi pengobatan kasus penyakit jantung koroner (PJK) yang banyak ditawarkan oleh dokter spesialis jantung. Padahal tindakan tersebut masih bisa ditunda terutama pada kasus pasien PJK yang masih stabil. 


Dalam bukunya berjudul State of the art Treatment of Coronary Heart Disease dan  buku State of the art Treatment of Hearth Failure, Prof.Dr.Med.dr.Frans Santosa, mengemukakan pada pasien PJK yang masih stabil dokter jantung masih memungkinkan menggunakan terapi konservatif. Ini adalah sejenis terapi pengobatan agresif dengan obat-obatan. Dengan terapi ini, penderita penyakit jantung koroner yang belum masuk kategori gawat tidak perlu menjalani tindakan lainnya, baik pemeriksaan kateterisasi (balon), pemasangan ring (stent), pompa jantung, maupun operasi by pass.  



Direktur Jakarta Vascular Centre ini menambahkan, sebenarnya ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan tindakan pemasangan stent atau bahkan langsung operasi by pass. Analoginya sama dengan pasien baru datang. Jangan baru direkam langsung disimpulkan harus kateter atau pakai ring. Ini terlalu cepat. 


Harus diingat bahwa tidak setiap pasien PJK adalah orang berduit, atau orang dengan polis asuransi kesehatan. Karenanya harus dipertimbangkan dengan baik saat tim dokter memutuskan pemasangan ring stent maupun operasi by pass.

Selain berbiaya mahal pemilik Klinik Kardiologi & Angiologi Waringin Merdeka ini menjelaskan penanganan pasien PJK pada stadium awal yang tidak tepat, juga berpotensi dapat menimbulkan kejadian komplikasi, yaitu robeknya pembuluh darah koroner sehingga terjadi penggumpalan darah dan akhirnya meningkatkan risiko kematian. 

Berbeda halnya dengan pasien PJK yang masuk kategori tidak stabil atau sudah akut. Pada tingkatan ini, pemasangan ring stent kadang tidak bisa ditunda.

Untuk pasien PJK yang nggak stabil yang paling bagus adalah kateter jantung. Itu yang bagus karena gold standar. Tetapi yang stabil nggak perlu periksa kateter apalagi pasang ring. Nggak usah. Karena dia diobati saja cukup,” jelas dr Frans

State of the art Treatment of Coronary Heart Disease itu sendiri merupakan edisi kedua atau edisi revisi dari buku sebelumnya yang diluncurkan 2011 lalu.

Di edisi kedua ini, Frans ingin lebih memastikan bahwa terapi yang disebutkan pada edisi pertama itu sudah sangat berkembang dan tepat. Bisa dibilang di edisi kedua ini sifatnya penguatan. Apalagi ada beberapa obat baru yang menambah efektifitas terapi pengobatan yang belum disebutkan di edisi pertama namun kita tulis di edisi kedua.  

Sementara pada buku yang bertajuk State of the art Treatment of Hearth Failure Frans mengulas tentang penyakit payah jantung (jantung lemah). Di buku ini Frans menuturkan dengan pengobatan yang benar, maka penderita jantung lemah sekalipun bisa diobati dan mengalami recovery. 

Caranya dengan mengkonsumsi obat-obatan yang benar dan sesuai dengan takaran selama 6 bulan hingga 1 tahun. Hasilnya walau tidak sembuh seperti sedia kala namun  pembengkakakan pada jantung yang dialami penderita lemah jantung bisa dikecilkan atau berkurang. Simptomatiknya membaik. Dengan demikian kerja jantung menjadi lebih ringan sehingga otot-otot jantungnya bisa membaik (recovery). Dan kalau sudah recovery rasa sakit, dan sesak yang diderita cepat reda.

Dengan kedua buku terbarunya ini peraih nobel dari Komunitas Nobel Indonesia (KNI) ini  berharap lebih banyak dokter yang membaca. Apalagi informasi yang ada kedua buku tersebut dimuat berdasarkan penelitian ilmiah yang sudah dibuktikan (evidence based).

#Salamsehat

0 Komentar