Mengajarkan ketrampilan membaca, menulis dan berhitung atau Calistung pada anak usia usia dini atau PAUD dan anak usia Taman Kanak-Kanak atau TK boleh nggak sih? Sepanjang hanya mengenalkan angka 1, 2, 3 atau a, b, c..dan seterusnya tentu masih diperbolehkan. Itu masih wajar. Meski tentu cara mengenalkannya dengan metode bermain, tidak dipaksakan dan dalam suasana menyenangkan.Misal dengan menyanyi, menarik atau bercerita.

Ella Yulaelawati, Direktur Pembinaan PAUD Kemendikbud mengakui saat ini banyak PAUD dan TK yang mengajarkan anak sudah pada tataran matematika. Mereka diajarkan berhitung, penambahan dan pengurangan. Ini jelas terlalu dipaksakan dan sangat berbahaya bagi perkembangan anak. Ke depan malah bisa mengganggu perkembangan mental anak.

Sayangnya kemampuan Calistung pada anak PAUD dan TK sering digunakan sebagai salah satu prasyarat masuk ke SD. Menjadi bagian dari sistem seleksi siswa baru.
Ini bahaya.

Ella mengatakan bahwa kesiapan seorang anak untuk belajar di SD bisa dilihat dari beberapa aspek sederhana. Misal tidak takut bertemu orang baru, berani dan bisa ke toilet sendiri, bisa makan dan minum sendiri tanpa disuapin, memasang tali sepatu, memakai baju tanpa bantuan orang lain, berani bertanya dan sebagainya. Indikator ini harus dipahami betul oleh guru-guru PAUD dan TK. Mereka tidak perlu memaksakan anak didik belajar Calistung.

Ella menyesalkan mengapa ada SD yang mensyaratkan kemampuan Calistung saat menyeleksi calon siswa baru. Barangkali fakta ini yang mendorong PAUD dan TK memaksa anak didiknya belajar Calistung.

"Kalau anak selesai TK belum bisa Calistung dibilang nggak keren. TK-nya nggak berkualitas. Ini salah besar," pungkasnya.

Jadi memang harus ada 'kesepakatan' antara guru PAUD dan TK dengan guru-guru di SD untuk saling berbagi tugas pada koridor yang sesuai dengan perkembangan dan usia anak.

#salamcalistung

0 Komentar