Jujur pagi ini hatiku teramat nelangsa. Pagi buta, dia sudah menelponku. Suaranya tersendat diseberang sana. Sambil menahan pedih yang amat sangat, ia bercerita bagaimana suaminya semakin gila.

“Bukan hanya jam pulang yang semakin molor. Kemarin dia tunjukin ke saya, hasil kerokan sang perempuan itu. Hampir penuh dipunggung dan dadanya,” ia bercerita. Suaranya bergetar, menahan tangis.

Jujur, hati dan jiwaku runtuh. Aku mencoba membayangkan diri pada posisinya. Seorang perempuan yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Harus menanggung nasib diduakan oleh suami.

Pagi ia harus bekerja membereskan urusan rumah tangga, menyapu, mengepel, memasak, mencuci dan menyetrika. Lalu  menjadi tukang ojek bagi anak bungsunya sekolah. Meski sepintas sederhana, itu cukup menguras tenaga dan waktunya.

Siangnya,  ia baru bisa pergi bekerja. Menempuh jarak lebih dari 20 km, naik sepeda motor pulang pergi seorang diri. Menembus kemacetan jalan, berjibaku menghindari iringan truk-truk kontainer diruas jalan yang selalu dilewatinya, ditengah siang yang terik. Dan baru pulang menjelang Isya.

Ia masih terus bercerita tentang kenekatan suaminya. “Sekarang nelepon sirinya pun sudah nggak sungkan-sungkan di depanku,” lanjutnya. Suaranya timbul tenggelam. Aku tahu,ia tengah menahan pedih yang amat sangat didadanya.

Perempuan kuat yang selama ini nyaris tak pernah merepotkan suaminya itu, kini seolah sudah ambruk. Ketegarannya sudah tak bersisa. Berulangkali ia mengungkapkan keinginannya untuk pulang kampung selamanya.

“Aku ingin segera mengakhiri perkawinan ini. Aku mau pulang kampung, anak-anak aku pindah semuanya,” katanya lagi.

Tetapi mendadak ia terisak-isak. Kesedihannya kembali memuncak. Duh, hatiku remuk. Bagaimana seorang suami tega melakukan semuanya ini pada orang yang dicintainya, orang yang selama ini melayaninya dengan tulus, orang yang telah memberinya dua anak yang manis-manis.

Ia perempuan tegar dan mandiri. Tak pernah sekalipun mengeluh atau bermanja pada suaminya. Bahkan ketika si sulung masuk ke SMA dan uang belanja yang diberikan oleh suami sudah tidak mencukupi, ia banting setir. Tidak lagi menjadi ibu rumah tangga yang duduk manis menunggu dompet terisi oleh gaji suami.

Ia memutuskan bekerja. Dengan ijasah sarjana dan akta IV yang dimiliki, ia bisa mengajar di dua sekolah sekaligus. Siang di Depok, menjelang sore mengajar di Jakarta Selatan. Dua sekolah itupun hanya mampu menghasilkan honor tak seberapa, tak lebih dari Rp 700 ribu sebulan. Tetapi ia bersyukur, bisa membantu ekonomi keluarga.

Keputusan pulang kampung sebenarnya sudah aku sarankan jauh hari sebelumnya. Pertimbanganku, ia butuh orang yang mendampingi dan menghiburnya dengan bijak setiap saat. Ia butuh suasana yang tenang. Ia butuh kehidupan baru disisi kedua orangtuanya. Ia butuh doa yang teramat banyak dan restu yang berlimpah dari ibu bapaknya.

Suami yang telah menduakan sudah terlalu banyak berbohong. Sudah terlalu banyak menguras air matanya selama setahun terakhir ini sejak nikah sirinya yang sudah 5 tahun terbongkar. Sudah terlalu banyak membuat dia harus berjuang mempertahnkan hidup dikota seperti Bekasi.

Tetapi ia selalu ketakutan. Setiap niat pulang kampung itu datang, terbayang bagaimana suaminya bakal menikmati kemerdekaaannya. Bagaimana suaminya akan bebas leluasa hidup dengan si janda perempuan itu.

Ia tidak iklas, ia tidak ridho memberikan kebahagian pada suaminya. “Dia harus merasakan sakit juga,” tekadnya.

Tapi bagaimana? Suaminya jelas-jelas setengah hati bertahan dirumahnya, bertahan pada perkawinan sahnya. Suaminya yang hanya buruh pabrik itu jelas-jelas lebih mengharapkan kehidupan dengan istri sirinya.

“Anak yang bikin dia masih bertahan dirumah ini. Kecuali aku lepaskan satu anak untuk dibawa olehnya, ia akan pergi selamanya,” ceritanya ketika itu.

Aku menghela nafas dalam. Terasa berat sekali hidup yang harus dijalani olehnya. Sudah hidup pas-pasan, kini ia pun dipaksa rela menerima hadirnya perempuan lain dalam kehidupan perkawinannya.

Di seberang sana, ia masih terus bercerita. Kadang suaranya meninggi saat bayangan kecemburuannya memuncak. Lalu menangis tiba-tiba saat membayangkan harus berpisah dengan suaminya, menjadikan anak-anaknya kehilangan figur ayah.

Aku bisa memaklumi, mengapa dia tidak ikhlas diduakan oleh suaminya. Ia terlalu cinta, mungkin cinta mati pada sang suami. Namun ketika suaminya mulai berbohong, cinta matinya sebenarnya sudah berubah setengah benci. Hanya logikanya yang mulai berjalan.

Ia tidak mengijinkan suaminya mendua, lebih kepada kemampuan finansiil yang selama ini sudah ditunjukkan selama mereka berumah tangga 15 tahun. Sebagai seorang buruh pabrik, gaji suami tergolong kecil, hanya sedikit diatas standar UMR Jakarta.

Gaji yang kecil itu, selama ini pun tidak mencukupi untuk biaya makan, listrik, transport kerja, ditambah sekolah anak. Beruntung orangtuanya membelikan sebuah rumah kecil di bilangan pinggiran Jakarta yang kini ia tempati. Ditambah dua sepeda motor yang bisa digunakan untuk menyokong tranportasi kerja suami. Ia tidak perlu kontrak rumah, suaminya pun tidak perlu keluar ongkos angkot untuk bekerja.

 Lantas dengan gaji yang kecil itu, bagaimana suaminya bisa menghidupi dua perkawinan? Ia berulangkali protes, meski protes itu hanya dijawab dengan nada datar sang suami. “Sampai keringatku berubah jadi darah, Cuma segitu duit yang bisa aku peroleh.”

Sebenarnya bukan itu jawaban yang diharapkan keluar dari mulut suaminya yang kini bau busuk karena bohongnya. Ia ingin suaminya kembali seperti dulu, setia dengan perkawinan sahnya. Menyerahkan seluruh waktu luangnya untuk keluarganya, bukan untuk perempuan lain. Menyadari keterbatasan penghasilannya dengan menukar seribu perhatian untuk perkawinanya.

Gagang telepon ditanganku sudah mulai terasa hangat. Namun ia masih terus bercerita, tentang suaminya. Suaranya timbul tenggelam, kadang diselingi isak tangis kecil, kadang suaranya penuh kegeraman.

Aku makin teriris. Perempuan itu begitu menderita. Terombang-ambing pada situasi yang luar biasa. Tidak ada situasi yang menguntungkan baginya. Tidak ada keputusan yang bisa membahagiakan dirinya.

Mengakhiri perkawinannya, itu berarti memberikan kemerdekaan pada suami. Tetapi memilih bertahan pada perkawinannya, itu jauh lebih berat. Berbagi suami tidak mudah, berbagi hati sangat menyakitkan. “Suamiku Cuma seorang buruh dengan gaji kecil, bagaimana bisa menghidupi dua perkawinannya,” begitu selalu ia menyampaikan ketakutannya.

Aku menghela nafas berat. Air mataku perlahan menetes, membasahi pipi. Tak sanggup aku membayangkan bagaimana ia begitu menderita sekarang. Seorang diri disana, tak ada yang bisa dijadikan tempat berkeluh kesah, tempat berbagi cerita.

“Posisi kamu dimana sekarang?” Tanyaku penuh kekhawatiran. Ya, aku baru sadar bagaimana ia bisa menelponku sedemikian lama, padahal telepon rumahnya sudah diputus sejak beberapa bulan lalu akibat tak sanggup membayar tagihan.

“Aku dirumah tetangga depan, pinjam telepon, pulsa handphoneku abis, ke warnet nggak ada duit. Aku hanya pegang duit Rp 3 ribu saja saat ini,” jawabnya polos.

Dug!! Aku kaget, luar biasa.

         

1 Komentar

  1. imajinasi yang kuat dan bermakna... i like it...

    jangan lupa untuk mampir di blog sya..

    http://rantauanlombokmenulis.blogspot.com/

    BalasHapus