Bahasa Inggris? Dulu pernah bisa, meski sedikit. Tapi entah kenapa, kebisaan yang cuma sedikit itu sekarang dah raib. Dan persisnya kapan, nggak ingetlah.

Tetapi yang jelas, karena nggak bisa bahasa Inggris, agak sulit mengikuti kuliah umum yang disampaikan Mr Yukia Amano, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA) yang diselenggarakan di gedung II lantai III Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta.

Sedikit yang  saya tangkap dari materi kuliah professor asal Jepang tersebut antara lain bahwa saat ini masyarakat Jepang trauma dengan nuklir paska tragedy Fukushima. Saking traumanya, 75 persen diantara mereka menolak pembangunan kembali nuklir. Meski penolakan tersebut harus mereka bayar mahal. Biaya elektrik rumah tangga naik hingga 18 persen dan elektrik pabrikan naik hingga 36 persen. Kenaikan biaya elektrik tersebut menyebabkan GDP Jepang terjun bebas, berkurang hingga 3,06 persen!.

Menyesal tidak bisa bahasa Inggris?

Ya pasti. Sebagai kuli tinta, tentu penguasaan bahasa asing menjadi salah satu senjata untuk mempermudah pekerjaan. Tetapi kan masih ada bahasa Indonesia. Itu hibur hati saya. (ini pas hari peringatan Sumpah Pemuda lho).

Setidaknya dengan hanya menguasai bahasa Indonesia, saya harus setia sampai titik darah penghabisan sama bahasa ibu pertiwi ini. Kemana pun dan dimana pun harus saya gunakan.

Walhasil, kalau dipikir-pikir saya ini adalah warga Negara yang setia dengan bunyi sumpah pemuda. Berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Saya juga tergolong cinta tanah air, karena dengan menggunakan bahasa Indonesia, itu artinya saya bangga sebagai bangsa Indonesia.

Nggak percaya? Tanyalah sama Pak Daoed Yoesoef, mantan Mendikbud. Beliau yang mengajari saya bahwa munculnya rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) yang notabene pake bahasa pengantar bahasa Inggris adalah perbuatan yang memalukan!

Namanya departemen pendidikan nasional (sekarang balik lagi jadi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) kok ngurusi sekolah internasional, begitu kata beliau.

Sayangnya, meski beliau sudah berulangkali menyentil pemerintah melalui tulisan-tulisannya di media massa, pemerintah tak kunjung memberikan respon.

Ini kritik Pak, boleh diambil boleh diabaikan, mungkin itu prinsip pemerintah…

0 Komentar